Dua penerbang TNI Angkatan Udara (TNI AU) asal Skadron Udara 11 menorehkan prestasi dengan meraih 2.000 jam terbang menggunakan pesawat tempur Sukhoi. Keduanya adalah Letkol Pnb Rahman “Frostwolf” Fauzi dan Mayor Pnb Yanika Eska “Knighthawk” Sisiyanto.
TNI Angkatan Udara (TNI AU) mengerahkan dua pesawat tempur Sukhoi dari Skadron Udara 11 untuk menjalankan misi pengawalan (escort) terhadap pesawat yang membawa Presiden Belarus Aleksander Lukashenko saat memasuki wilayah udara Indonesia, Rabu (1/7).
TNI Angkatan Udara (TNI AU) dan Angkatan Udara Malaysia (Tentera Udara Diraja Malaysia/TUDM) berencana menggelar latihan bersama (Latma) Elang Malindo 2026, sebagai bagian dari penguatan kerja sama pertahanan di antara Indonesia-Malaysia.
Sebanyak dua pesawat tempur Sukhoi TNI Angkatan Udara (TNI AU) yang berasal dari Skadron Udara 11 Wing Udara 5 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar dikerahkan untuk mengamankan penyelenggaraan Forum Indonesia-Afrika (Indonesia Africa Forum/IAF) ke-2 tahun 2024 yang digelar di Bali.
Setiap ekor pesawat militer, tidak terkecuali pesawat TNI Angkatan Udara (TNI AU), memiliki serangkaian huruf dan angka khusus yang berfungsi sebagai identitas. Setiap negara memiliki sistem penomoran ekor pesawat (tail number) yang berbeda-beda. Masing-masing militer memiliki aturan tersendiri. Sebagai contoh, pesawat milik TNI AU. Barisan jet tempur hingga helikopternya memiliki sistem penomoran tail number yang terdiri dari satu atau dua digit huruf, kemudian diikuti dengan empat digit angka.
Pengisian bahan bakar di udara atau lebih dikenal dengan air refueling menjadi bagian penting dalam pelaksanaan sebuah misi. Air refueling juga menjadi salah satu kemampuan yang harus dikuasai oleh seorang penerbang jet tempur (fighter).
Lumajang, IDM - Suasana berbeda menghiasi langit Kabupaten Lumajang, Jawa Timur pada Selasa (29/9). Puluhan pesawat tempur nampak berakrobat di atas langit Lumajang. Tak sekedar beratraksi, puluhan pesawat tersebut juga melakukan serangan ke sasaran yang ada di lapangan di Desa…