Jakarta, IDM – Para pemimpin kudeta di Nigeria mengatakan bahwa Prancis telah dengan sengaja melanggar wilayah udara negara tersebut. Prancis pun dituduh ‘membebaskan’ beberapa anggota teroris untuk semakin mengacaukan situasi di Nigeria.
Dilansir dari Al Jazeera, Kamis (10/8), juru bicara pemimpin kudeta, Kolonel Amadou Abdramane, mengklaim Prancis telah melepaskan sebanyak 16 “elemen teroris” yang diperintahkan untuk melakukan serangan terhadap markas militer Nigeria di wilayah perbatasan.
“Satu unit Garda Nasional Nigeria diserang pada pukul 06:30 (05:30 GMT) di Bourkou Bourkou, sekitar 30 kilometer dari tambang emas Samira di wilayah Tillaberi,” kata Abdramane.
Baca Juga:ย Kembangkan Drone Lokal, Arab Saudi Kerja Sama dengan Industri Pertahanan Turki
Lebih lanjut, Abdramane juga menyebut pesawat militer Prancis telah melanggar larangan wilayah udara negara itu. Namun, ia tidak memberikan bukti apa pun untuk klaim tersebut.
โKami menyaksikan rencana nyata destabilisasi negara kami, yang diatur oleh pasukan Prancis,โ ujarnya.
Sementara, Prancis menolak semua tuduhan dan menegaskan manuver pesawat di Nigeria merupakan bagian dari kesepakatan kedua negara yang telah diraih jauh sebelum kudeta terjadi.
Baca Juga: Perkuat Perbatasan, Polandia Siap Kirim 2.000 Tentara ke Perbatasan Belarus
“Itu adalah bagian dari kesepakatan sebelumnya dengan pasukan Nigeria dan tidak ada serangan terhadap kamp militer Nigeria,” kata Kementerian Luar Negeri Prancis.
Prancis sendiri memiliki sejarah yang cukup panjang dengan Nigeria sebagai bekas kekuatan kolonial. Hubungan bilateral keduanya juga terjalin cukup erat yang dibuktikan dengan penempatan sekitar 1.000 tentara Prancis di negara tersebut. Tetapi, para pemimpin kudeta telah mencabut lima perjanjian kerja sama militer sejak Juli lalu. (bp)