HANKAM

Keberadaan Prajurit Perempuan TNI Atasi Kekerasan Gender di Daerah Konflik

peacekeeper
Salah satu kegiatan prajurit perempuan TNI di Lebanon Selatan. (Foto: Dok. PMPP)

Jakarta, IDM - Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI menilai bahwa keberadaan perempuan TNI sebagai personel penjaga perdamaian berperan penting mengatasi masalah-masalah terkait kekerasan berbasis gender di daerah konflik.

Komandan PMPP TNI Laksda TNI Retiono Kunto dalam konferensi ASEAN Women Peace and Security (WPS) Summit di Yogyakarta, Kamis menyampaikan keberadaan perempuan TNI sebagai personel penjaga perdamaian memberikan akses dan kesempatan berinteraksi yang besar kepada masyarakat, terutama terhadap perempuan dan anak-anak yang berada di daerah operasi.

"Pelibatan 'woman peacekeeper' sesuai dengan kompetensinya, misalnya melaksanakan sosialisasi hingga isu yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap hak perempuan dan anak, komunikasi menjadi lebih mudah dipahami," katanya dikutip dari Antara, Jumat, (7/7).

Baca Juga: Komandan Korps Marinir Korsel Kunjungi Markas Marinir Cilandak, Tinjau Tank Amfibi LVT-7

Oleh karena itu, kata dia, TNI akan terus berupaya untuk meningkatkan jumlah personel perempuan penjaga perdamaian.

"Sekarang ini ada 64 'woman peacekeeper', kita komitmen meningkatkan untuk terlibat dalam operasi perdamaian dunia," kata Retiono Kunto dalam konferensi bertema "High Level Dialogue to Advance the Implementation of the Regional Action Plan on Women, Peace and Security" itu.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati mengatakan perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata khususnya dalam upaya pencegahan konflik karena perempuan memiliki kepekaan khusus untuk membangun rekonsiliasi.

Baca Juga: 21 Peserta Ikuti Kursus Peningkatan Kompetensi Penyurvei Hidrografi Selama Enam Bulan

"Perempuan adalah aktivis perdamaian yang kuat dan negosiator yang mumpuni. Kepekaan alami perempuan membangun rasa saling menghormati dan inklusivitas di antara berbagai kelompok," katanya.

Ia mengharapkan melalui konferensi ini dapat mendorong partisipasi dan kepemimpinan perempuan dalam perdamaian dan keamanan.

"Saya sangat berharap bahwa kita semua yang hadir juga dapat memperkuat komitmen dan tindakan kolaboratif kita untuk sepenuhnya memajukan agenda perempuan, perdamaian, dan keamanan," demikian I Gusti Ayu Bintang Darmawati. (rr)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.