INTERNASIONAL

Human Right Watch: Ukraina Gunakan Ranjau Darat di Medan Tempur

Hulu ledak roket 9M27K3 Uragan 220mm
Hulu ledak roket 9M27K3 Uragan 220mm, yang membawa ranjau darat anti-personil PFM-1S. (Foto: Dok. Humam Right Watch)

Jakarta, IDM - Human Rights Watch (HRW) mengatakan mereka menemukan bukti bahwa pasukan Ukraina telah menggunakan ranjau darat anti-personil yang dilarang di medan tempur berdasarkan hukum internasional. Ranjau itu disebut digunakan untuk merebut kembali wilayah yang diduduki Rusia.

Dilansir dari laman resmi HRW, Sabtu (1/7), organisasi tersebut menegaskan pemerintah Ukraina agar tetap memegang teguh komitmen mereka untuk tidak menggunakan senjata semacam itu. Mereka juga meminta pertanggungjawaban pihak Ukraina atas tuduhan pelanggaran yang dilakukan.

Baca Juga: Prancis Berhasil Uji Coba Prototipe Glider Hipersonik V-MAX

HRW mengatakan pihaknya telah melaporkan temuannya dengan pemerintah Ukraina melalui surat resmi pada Mei lalu. Namun, otoritas Ukraina belum memberikan tanggapan apapun.

“Pemerintah Ukraina wajib untuk menyelidiki penggunaan ranjau anti-personil terlarang oleh militernya, ini menunjukkan komitmen atas tugasnya untuk melindungi warga sipil,” Steve Goose, direktur Human Rights Watch.

Menurut keterangan HRW, mereka mengidentifikasi dua bagian hulu ledak dari roket 220mm 9M27K3 Uragan, yang dirancang khusus untuk menyebarkan 312 ranjau anti-personil PFM-1S. Meskipun ranjau yang ditemukan masih dalam keadaan yang belum disebar, timbul kekhawatiran banyak ranjau lain telah ditanam secara diam-diam.

Baca Juga: Pentagon: Balon Pengintai Cina Tidak Mengumpulkan Informasi Intelijen

Ranjau anti-personil akan meledak jika mendeteksi, melakukan kontak atau disentuh oleh seseorang. Ranjau ini dilarang karena keberadaannya yang masih dapat menimbulkan korban bahkan setelah konflik di suatu negara berakhir.

Berdasarkan hukum internasional yang dibentuk pada tahun 1997, ranjau darat merupakan salah satu senjata yang dilarang untuk digunakan bagi negara manapun ketika terlibat dalam perang. Ukraina sendiri meratifikasi perjanjian itu pada tahun 2005. (bp)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.