Soal Hibah Korvet Korsel, KSAL: Menguntungkan, Tambah Unsur Kekuatan TNI AL

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengaku rencana penerimaan hibah satu unit kapal perang korvet bekas dari Korea Selatan, bakal membantu kekuatan TNI AL untuk pertahanan laut.
"Tentu saja cukup menguatkan, karena kalau dihitung dari luas lautan yang ada, kemudian jumlah kapal perang yang kita punya, tentu belum sebanding untuk menjaganya," kata Ali saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi I DPR RI, Kemhan, dan Panglima TNI di Senayan, Jakarta, Kamis (6/6).
"Adanya korvet ini akan meningkatkan kekuatan, terutama di Satuan Kapal Eskorta (Satkor) yang terdiri dari kapal perang jenis korvet dan fregat," sambungnya.
Baca Juga: Indonesia Akan Terima Hibah Korvet Kelas Pohang dari Korsel, Ini Rinciannya
Mengenai masa operasional kapal, Ali mengungkapkan korvet Patrol Combat Class (PCC) Bucheon-733 kelas Pohang itu diperkirakan masih mampu untuk digunakan dalam rentang waktu 10-15 tahun dengan hanya memerlukan pembenahan pada sistem sensor, persenjataan, dan komando (Sewaco).
"Beberapa unsur (kapal perang) kita ada yang lebih tua dari (Bucheon-733) itu umurnya, seperti kelas Parchim jauh lebih tua, kelas Van Speijk jauh lebih tua lagi, bahkan lebih tua dari umur saya. (Hibah korvet) tentu menguatkan, masih bisa digunakan," ujar Ali.
Selain itu, secara teknis rencana penerimaan hibah korver kelas Pohang dari Korea Selatan itu memiliki persenjataan meriam 76mm yang hampir digunakan di seluruh kapal perang atau KRI jenis korvet dan fregat yang dimiliki oleh TNI AL.
Baca Juga: Kunker di Lanud Abd Saleh, KSAU Ungkap TNI AU Akan Diperkuat dengan Alutsista Baru dan Modern
"Hampir sama dengan korvet dan fregat kita yang ada meriamnya 76mm. Secara pelatihan, penggunaan, dan pemeliharaan, para anak buah kapal (ABK) sudah cukup menguasai. Jadi, ini menguntungkan," tuturnya.
Kemudian, Ali mengatakan rencana penerimaan hibah korvet tersebut juga menguntungkan dari nilai ekonomis. Pasalnya, untuk perbaikan hanya perlu dilakukan penambahan pada Sewaco, yakni sensor dan combat management system (CMS).
Baca Juga: Shangri-La Dialogue, Berawal dari Kekhawatiran Atas Keamanan Dunia
"Perawatan tidak terlalu berat, badan kapal atau hull dari kondisi yang disurvei cukup baik, untuk pusat pemadam dan sistem hydrant cukup baik, pelengkapan pelampung cukup lengkap, liferaft mungkin perlu servis karena umurnya hanya setahun, biasanya tiap tahun diperiksa," papar Ali.
"Tinggal masalah pada Sewaco, CMS yang mungkin perlu diperbaiki dan mungkin apabila akan dilengkapi dengan rudal dan torpedo, nanti kita bisa ikut program refurbishment kalau memang dipersenjatai produk kendali dan torpedo," imbuhnya. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































