Rusia-Korut Sepakati Perjanjian Strategis, Sekjen NATO Peringatkan Negara-Negara Otoriter Semakin Kuat

Jakarta, IDM – Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menyoroti perjanjian pertahanan yang disepakati oleh Rusia dengan Korea Utara (Korut), yang menurutnya menunjukkan upaya negara-negara otoriter untuk terus memperkuat kerja sama.
Baca Juga: Putin Puji Vietnam yang ‘Seimbang’ Dalam Menyikapi Konflik Ukraina
Oleh sebab itu, ia memperingatkan agar aliansi pertahanan NATO melakukan hal yang sama, yaitu terus mendorong 'keselarasan' dan kerja sama untuk menjaga perdamaian di kawasan, khususnya Asia-Pasifik. Ia pun mengatakan, itulah alasan mengapa Australia, Jepang, Selandia Baru dan Korea Selatan (Korsel) diundang ke KTT NATO di Washington pada Juli mendatang.
“Kita perlu menyadari bahwa kekuatan otoriter semakin selaras. Mereka saling mendukung dengan cara yang belum pernah kita lihat sebelumnya,” katanya melansir Reuters, Kamis (20/6).
Baca Juga: Ini Poin Penting Perjanjian Strategis antara Rusia-Korut
“Ketika mereka semakin selaras, rezim otoriter seperti Korut dan Cina, Iran, Rusia, maka menjadi lebih penting lagi bahwa kita selaras sebagai negara yang percaya pada kebebasan dan demokrasi,” tambahnya. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































