Jakarta, IDM โ Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa pihaknya ingin perdamaian tetapi akan memberikan ‘tanggapan keras’ jika Israel membalas serangan rudal Iran yang diluncurkan pada beberapa waktu lalu.
“Jika Israel membalas, tanggapan kami akan lebih keras. Kami benar-benar menentang pertumpahan darah. Kami selalu mengatakan: kami menginginkan perdamaian, kami menginginkan ketenangan. Kami tidak ingin pertumpahan darah di negara mana pun. Tetapi Israel mendorong kami untuk melakukan ini,” kata Pezeshkian, melansir AA, Kamis (3/10).
Ia pun menyoroti pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh oleh Israel di Teheran. Menurutnya, serangan Israel itu memaksa Iran untuk melakukan balasan.
Baca Juga: Bom Seberat 226 Kg Meledak di Bandara Jepang
“Tidak ada negara atau pihak yang dapat menerima ini. Tidak ada wilayah yang dapat berkembang atau makmur di bawah bayang-bayang perang,” katanya.
“Saya memohon kepada Barat: Tolong tarik Israel, Anda menempatkan Israel di jantung wilayah ini. Anda juga ikut bertanggung jawab dalam pertumpahan darah,” tambahnya.
Sebelumnya, Pezeshkian telah bertemu dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani untuk membicarakan hubungan bilateral sekaligus situasi di Timur Tengah. Ia menggambarkan pertemuan itu sangat konstruktif untuk mewujudkan perdamaian regional dan kepentingan bersama.
Baca Juga: Dianggap Gagal Tekan Iran, Israel Larang Sekjen PBB Masuk Negaranya
โKami melakukan segala yang kami bisa untuk memperkuat dan memperdalam hubungan kami dengan Qatar. Kami melihat bahwa meningkatnya ketegangan akan berdampak buruk bagi semua orang. Meredakan ketegangan ini adalah prioritas utama kami,โ ujarnya.
โKami sepakat tentang pembentukan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya. Solusi lain apa pun akan berakhir dengan kegagalan,” tambahnya.
Pezeshkian bertemu Hamad Al Thani beberapa jam setelah Iran meluncurkan hampir 200 rudal ke Israel pada hari Selasa (1/10). Iran mengklaim serangan itu sebagai balasan atas serangkaian kejahatan Israel antara lain pembunuhan Haniyeh, pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah dan pembantaian di Jalur Gaza maupun Lebanon. (bp)