KRI Teluk Youtefa-522 Latihan Penembakan Artileri di Laut Flores

Jakarta, IDM – Kapal pengangkut tank (LST) milik TNI AL, yaitu KRI Teluk Youtefa-522 melaksanakan latihan penembakan artileri di Laut Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (6/1).
Komandan KRI Teluk Youtefa-522 Letkol Laut (P) Tri Hadiyat menyampaikan, latihan ini bertujuan mengasah naluri tempur serta keterampilan prajurit dalam menghadapi berbagai ancaman di laut.
"Latihan ini juga upaya TNI AL dalam menjaga kesiapsiagaan dan memastikan kemampuan operasional serta personel dalam bertugas menjaga kedaulatan perairan nusantara," kata Hadiyat, dikutip dari laman TNI AL, Kamis (9/1).
Baca Juga: Lantamal IV Berikan Santunan kepada Keluarga Awak KRI Macan Tutul
Dia mengungkapkan, latihan ini dirancang untuk memberikan pengalaman nyata dalam simulasi pertempuran laut dengan melibatkan seluruh komponen kapal, yaitu penggunaan berbagai jenis meriam secara profesional.
"Tujuannya tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan individu prajurit tetapi juga kerja sama tim dan koordinasi yang menjadi faktor penting dalam operasi di medan sebenarnya," ungkapnya.
Selain itu, latihan ini juga menjadi momen untuk mengevaluasi kesiapan alutsista, dalam hal ini KRI Teluk Youtefa-522.
"Karena pemeliharaan dan pengoperasian yang baik, dapat memberikan performa maksimal dalam mendukung tugas TNI AL menghadapi berbagai tantangan operasi laut yang semakin kompleks," pungkasnya.
Baca Juga: Menhan Sjafrie dan Kepala BNPT Bahas Strategi Penanggulangan Terorisme
Spesifikasi KRI Teluk Youtefa-522
KRI Teluk Youtefa-522 merupakan kapal jenis LST ke-5 produksi dalam negeri dari galangan PT Daya Radar Utama (DRU), Lampung. Kapal ini diresmikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) yang kala itu dijabat oleh Laksamana (Purn) Yudo Margono di dermaga Pondok Dayung, Tanjung Priok, Jakarta, pada 12 Juli 2021.
KRI Youtefa-522 memiliki spesifikasi panjang 120 meter, lebar 18 meter, tinggi 7,8 meter dan draft 3 meter (full load) dengan bobot 4.508 ton. Kecepatan maksimumnya 16 knots, kecepatan jelajah 14,8 knots, dan kecepatan ekonomis 13,6 knots dengan kemampuan jelajah sejauh 7.200 nautical miles. Selain itu, KRI Teluk Youtefa-522 mampu berlayar 20 hari dengan menggunakan dua mesin stx-man diesel 4.320 kilowatt (kW).
Dapat mengangkut 10 unit tank leopard, 1 unit panser 2 AVBL, 1 unit transporter, 2 unit helikopter dan 361 pasukan, KRI Teluk Youtefa-522 memiliki fungsi asasi sebagai kapal angkut tank, tugas pokok kapal angkut tank adalah mengangkut alat-alat perang, logistik dan personel dari pangkalan tolak ke daerah sasaran secara terbatas.
Sedangkan fungsi tambahan yang dapat dilaksanakan KRI Teluk Youtefa-522, yaitu mengangkut helikopter untuk keperluan tugas khusus seperti pengintaian dan lainnya.
Baca Juga: Satgas Perbatasan Berikan Wawasan Kebangsaan untuk Anak Papua
Penggunaan KRI Teluk Youtefa-522
Kapal ini juga dapat mengangkut pasukan dalam rangka penggantian pasukan, serta dapat mengangkut alat logistik dalam rangka re-supply pasukan di daerah operasi.
Lebih lanjut, KRI Teluk Youtefa-522 juga mampu melaksanakan search and rescue terbatas dalam pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban kecelakaan di laut. (at)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































