“Patung ini sengaja saya buat kaki kuda mengangkat satu kaki, seolah-olah Bung Karno menunggangi kuda yang sedang berjalan. Kalau saya buat tegap hasilnya kurang bagus, ” ujar lulusan Sekolah Seni Rupa Indonesia ini.
Sebagai seorang pematung, menurutnya pembuatan patung Bung Karno adalah kebanggaan baginya. Karena patung Bung Karno berkuda hanya ada di dua kota, Solo dan Jakarta.
Sebagai pematung yang aktif dalam karya personal dan proyek-proyek monumen, prestasinya terbilang moncer. Bisa dikatakan Dunadi merupakan salah satu pematung monumen berskala internasional yang dimiliki negeri ini.
Beberapa proyek monumen yang pernah dikerjakan antara lain Patung Gesang di Solo (1991), Monumen Jenderal Ahmad Yani di Purworejo (1992), Patung Saraswati di Taman Indonesia Charles Darwin University, Darwin, Australia (2009), Monumen Arjuna Wijaya, Boyolali, Jawa Tengah (2015), Patung Taman Kupu-Kupu โButterflies Up-Closeโ, Science Centre Singapura (2016), Lambang Garuda Pancasila di Istana Merdeka, Jakarta (2018 & 2019), Monumen Pangsar Jenderal Soedirman di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta (2019), Monumen Marsda TNI Anumerta Prof. dr. Abdulrachman Saleh di Wisma Aldiron, Jakarta (2021), Monumen Dr. (H.C.) Ir. Sukarno di Lemhannas RI, Jakarta (2021), dan Monumen Dr. (H.C.) Ir. Sukarno di Kementerian Pertahanan RI, Jakarta (2021).
Dengan kemampuan teknik realis yang mumpuni, ia menjadi salah satu murid dan generasi penerus yang berhasil pasca pematung besar Edhi Sunarso (alm). (ph/nhn)