HANKAM

Antisipasi Autonomous Warfare, Pakar Soroti SDM TNI AL: Siapkan Perwira Ahli Strategi

Acara Diskusi di Mabesal
Pakar bidang kecerdasan buatan (AI) Ridwan Prasetyarto saat menjadi narasumber di acara diskusi di Mabesal, Cilangkap, Jakarta, Rabu (25/9). (Foto: Dok. Dispenal)

Jakarta, IDM – Pakar bidang kecerdasan buatan (AI) Ridwan Prasetyarto menyoroti sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki TNI AL untuk menghadapi peperangan modern berbasis teknologi otonom (autonomous warfare).

Dia meyakini ke depan TNI AL harus memiliki perwira-perwira ahli strategi yang mampu mengorkestrasi alutsista atau persenjataan berteknologi otonom yang nantinya dibeli oleh TNI AL.

Baca Juga: Wakil Kepala BRIN: TNI AL Harus Punya Senjata Nirawak untuk Deteksi Kapal Selam Nuklir

"AI ini membawa konsekuensi kita harus lebih banyak punya ahli strategi, bukan ahli analis karena itu wilayah mesin. Jadi, ahli strategi di level atas sampai di level lapangan harus ada untuk mengoperasikan dan mengawasi AI itu sendiri," ujar Ridwan dalam acara diskusi di Mabesal, Cilangkap, Jakarta, Rabu (25/9).

Senada, Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksamana Madya (Purn) Amarullah Octavian menegaskan TNI AL harus memperluas kapasitas serta menyiapkan SDM yang berkompeten di bidang AI untuk mampu mengelola perkembangan alutsista nirawak (unmanned system).

"Cari para perwira kita yang pintar, kirim letnan satu (Lettu), letnan dua (Letda) untuk pendidikan S2, S3 (doktor) bidang AI ke luar negeri. Kalau tidak, (TNI AL) kita pasti ketinggalan," tegas Amarullah.

Baca Juga: Urgensi TNI AL Bangun Kemampuan Tempur untuk Hadapi Peperangan Berbasis Teknologi Otonom

Dia menyoroti upaya TNI AL untuk "melek" dengan perkembangan teknologi senjata unmanned system pada autonomous warfare tidak serta-merta menjadi wacana dalam lingkup diskusi, tetapi harus dilakukan bersama dengan tindakan di lapangan untuk menyusun strategi "nyata".

"Silakan TNI AL buat semiloka. Dari hasil focus group discussion (FGD) ini bikin gabungan dari seminar dan lokakarya. Jadi, nanti dibuat workshop kelompok kerja (pokja) untuk merumuskan strategi untuk mengantisipasi unmanned system. Kalo nggak, kita cuma masih tenang-tenang saja," ucapnya.

"Kalo cuman (sebatas) FGD begini kurang (berkembang) kita," tambahnya.

Baca Juga: Gerak Cepat TNI dan Kemlu Soal Situasi di Lebanon dan Pemulangan WNI

Adapun TNI AL menggelar FGD bertajuk "Autonomous Warfare for Revolution Maritime Operation Affair" yang dibuka secara langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali sebagai pembicara kunci (keynote speaker).

Kemudian, narasumber lainnya dalam acara tersebut juga dihadiri oleh Asisten Khusus Menteri Pertahanan Laksamana Madya (Purn) Didit Herdiawan Ashaf dan Kepala Badan Pembinaan Hukum (Kababinkum) TNI Laksamana Muda Kresno Buntoro. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.