Tsunami Aceh menjadi 'Wake Up Call' dalam Membangun Resiliensi Terhadap Bencana Alam

Jakarta, IDM – Tsunami di Aceh yang terjadi pada 20 tahun lalu, menjadi 'wake up call' bagi Indonesia untuk membentuk resiliensi dalam menghadapi dan mengatasi kemungkinan bencana alam.
Sejalan dengan itu, Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati mengatakan, dengan masyarakat dan pemerintah yang lebih siap, jumlah korban dan kerugian akibat bencana diharapkan dapat ditekan sekecil mungkin.
"Pada 20 tahun lalu, kita mendapat wake up call, usai tsunami yang terjadi di Aceh yang korbannya lebih dari 250.000 jiwa," ujarnya saat menghadiri 'Reflecting on 20 Years of Indonesia-U.S. Disaster Response Partnership' di @america, Jakarta, Kamis (13/6).
Baca Juga: Latihan Jalak Sakti dan Trisula Perkasa, KSAU: Tingkatkan Kemampuan hingga Interoperabilitas Jajaran Koopsud I serta Kopasgat
"Resiliensi sangat penting, kami ingin mengurangi jumlah korban jiwa, kami ingin mengurangi jumlah orang yang terpaksa mengungsi, mengurangi dampak sosial dan ekonomi," tambahnya.
Ia pun menyoroti bahwa saat itu, Amerika Serikat merupakan salah satu negara terdepan yang mengirim pasukan untuk operasi kemanusiaan. Mereka membantu dalam berbagai hal yang krusial termasuk tenaga medis dan logistik.
"Kami ingin mengapresiasi, bahwa ini bukan hanya kemitraan dan kolaborasi tetapi ini adalah persahabatan antara Indonesia dan Amerika Serikat. Saat itu, benar-benar merupakan momen penting. Kami didukung logistik, militer, dan tenaga medis," imbuhnya.
Baca Juga: Bertemu PM Arab Saudi, Prabowo Bahas Hubungan Bilateral Kedua Negara
Maka dari itu, berbagai kerja sama yang telah dilakukan baik antara pihak militer Indonesia-AS maupun lembaga harus ditingkatkan. Simulasi dan latihan dalam mencegah dan mitigasi bencana merupakan kunci untuk menghadapi berbagai tantangan yang terus berkembang.
"Kerjasama ini harus terus dilanjutkan, untuk menjadikan kita tangguh karena krisis, bencana yang akan datang akan datang, dan kita harus bersiap-siap. Karena tanpa berlatih, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita lakukan jika terjadi," pungkasnya. (bp)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































