HANKAM

Pengamat Militer Sebut Rusia Kerahkan 6.000 Personel di Suriah

Bashar al-Assad dan Vladimir Putin.
Bashar al-Assad bersama Vladimir Putin. (Foto: Dok. Wikimedia)

Jakarta, IDM – Pengamat militer Tasha Imansyah menyoroti konflik yang terjadi di Suriah usai kelompok antirezim berhasil menguasai ibu kota Damaskus pada 8 Desember. Hal ini sekaligus menjadi penanda berakhirnya rezim Bashar al-Assad yang telah berkuasa selama 24 tahun.

Menurutnya pemerintah Indonesia harus segera melakukan komunikasi dengan perwakilan pemerintah baru Suriah untuk memastikan keamanan serta keselamatan warga negara Indonesia (WNI) dan juga mengamankan jalur evakuasi warga Indonesia di Damaskus.

“Pemerintah Indonesia juga harus segera menyiagakan aset-aset pesawat angkut jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk mengevakuasi WNI dari Suriah,” kata Tasha saat dihubungi di Jakarta, Senin (9/12).

Baca Juga: Persiapan TNI AL untuk Latihan Operasi Laut Gabungan II

Dengan berhasilnya kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) pimpinan Abu Mohammad al-Jolani mengambil alih Damaskus, Tasha mengimbau agar Indonesia tetap perlu berhati-hati dengan kelompok-kelompok yang selama ini menjadi simpatisan gerakan pemberontak Suriah di Indonesia.

“Euforia keberhasilan ini pasti akan digunakan sebagai propaganda dalam pergerakan mereka di tanah air,” ujar Tasha.

Peran Penting Pihak Asing

Dalam kurun beberapa tahun terakhir, Russia memiliki peran besar dalam membantu Assad, terutama dalam mengalahkan pemberontak. Kemenangan terbesar yang dibantu Rusia adalah mengambil alih Aleppo pada Desember 2016. Rusia yang diketahui mendukung rezim Assad memiliki pangkalat laut dan udara di Suriah.

Saat ini, Tasha mengatakan jika beberapa alutsista dan personilnya sudah berjaga-jaga di wilayah Suriah.

Baca Juga: Lanud Iswahjudi Gelar Uji Coba Makan Bergizi Gratis

“Yang jelas kurang lebih ada 4 kasel Kilo, penjelajah Slava-class, Kirov-class, bomber Tu-22M ada 14, bomber Tu-95 dan Tu-160 juga ada. Belum fighter (pesawat tempur) seperti Su-27/30/35,” jelas Tasha.

“Pasukan tempur kurang lebih 6000 personel,” lanjutnya.

Di sisi lain, kemenangan kelompok antirezim perlu diperhatikan dengan kemungkinan terjadinya pergerakan politik di Iran setelah Iran kehilangan sekutu-sekutunya di Jazirah Arab. Iran yang juga dikenal mendukung pemerintahan Assad diketahui mengirimkan senjata ke milisi Hezbollah di Lebanon melalui Suriah dan diperkirakan mengirimkan miliaran dolar untuk mendukung pasukan Assad. (nhn)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.