Jakarta, IDM โย Bagi Lettu Ctp. Heri Gusfarienza menjadi prajurit Direktorat Topografi TNI AD (Dittopad) adalah suatu tugas yang mulia, penuh tantangan dan penuh pengalaman yang mengesankan.
Kepada redaksi Indonesia Defense Megazine pria lulusan Teknik Geodesi, Universitas Diponegoro ini mengaku punya banyak kenangan yang tersimpan dan tak terlupakan.
Heri menceritakan, ia bersama tim pernah menyelesaikan masalah outstanding border problem (OBP) di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Lalu pada 2020 melakukan survei unilateral OBP di Sungai Sinapad Kalimantan Utara dan beberapa wilayah OBP di Kalimantan Barat.
Baca Juga:ย Susun Naskah Roadmap Pengembangan PTTA, TNI AU Tingkatkan Kapabilitas Teknologi Militer
“Kami harus menyeberangi lautan hingga mendaki bukit dan gunung yang terjal,” ujar Heri saat ditemui di gedung Dittopad di Bungur, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat waktu itu.
Di pulau Sebatik misalnya mereka mendapatkan tugas memperbaiki patok yang berbatasan langsung dengan Pulau Tawau, Malaysia. Kata Heri perjalanan ditempuh dengan susah payah dan harus menyeberangi sungai Nunukan. Dan ketika tiba di lokasi mereka harus mengangkat patok besar dari batu alam yang dibuat oleh Belanda.
“Kami benar-benar tidak bisa mengangkat patok tersebut dan akhirnya memutuskan kembali esok hari dan ternyata patok tersebut sudah tertutup air pasang. Jadi kami terpaksa berendam di air sambil mengerjakan pembangunan tugu,” kata Heri yang lulus jadi lewat jalur prajurit karier (PK).
Baca Juga:ย Gelar Pertemuan di Lanud RSN, TNI AU dan RSAF Bahas Persiapan Latihan Bilateral Fighter Interaction 02/24
Masih di pulau Sebatik, Heri dan tim pun harus berjibaku membangun patok di tanah berlumpur di hutan bakau. Dalam menempuh perjalanan mereka membawa bahan dan peralatan lengkap dari semen, tiang patok yang panjangnya sekitar 10 meter, dan alat ukur seperti teodolit.
“Tidak ada akses lain selain lewat lumpur. Mau tidak mau kami buat jalan dengan tumpukan-tumpukan kayu, sangat sulit namun inilah pekerjaan mulia kami,” kenang Heri. (rr)