HANKAM

Cerita Mission Commander dan Pilot Operasi Kemanusiaan di Turki, Menembus Udara Dingin Hingga Haru Membawa Korban ke Ankara

Hercules
Kru dan pesawat Hercules C-130 milik TNI AU saat operasi kemanusiaan di Turki. (Foto: Dok. Skadron Udara 32 TNI AU)

Jakarta, IDM - Indonesia menjadi salah satu negara yang bergerak cepat membantu Turki usai gempa dahsyat berkekuatan 7,8 magnitudo mengguncang negara dua benua tersebut, Senin (6/2).

Tak hanya bantuan logistik seperti bahan makanan, selimut dan obat-obatan, dukungan Indonesia untuk Turki juga diberikan melalui kesiagaan kru dan pesawat Hercules C-130 milik TNI AU yang diarahkan untuk tetap tinggal dan membantu Turki menanggulangi bencana di sejumlah titik terdampak.

KBRI Ankara melalui keterangan resminya mengatakan bahwa langkah tersebut merupakan perintah langsung dari Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto. Ia meminta para kru dan pesawat hercules untuk urun serta mendistribusikan logistik dan mengevakuasi korban-korban hingga Senin (20/2).

IDM
Tangkapan layar Kolonel Pnb Wisoko (dua kanan) memberikan keterangan saat wawancara khusus dengan Redaksi IDM secara daring dari Turki.

Kolonel Pnb Wisoko, Mission Commander dalam misi operasi kemanusiaan di Turki itu mengakui sejumlah tantangan dialaminya selama menjalankan misi, termasuk musim dingin yang saat ini sedang berlangsung di Turki.

Hal tersebut diungkap Wisoko kepada Indonesia Defense Magazine dalam wawancara langsung melalui zoom, Rabu (15/2). Wisoko yang didampingi pilot pesawat hercules C-130, Letkol Pnb Yudi Bandung juga mengisahkan beberapa pengalaman saat menunaikan operasi kemanusiaan tersebut.

Salah satu yang diceritakan adalah situasi Turki terkini. Kendati sudah tidak ada gempa susulan, Wisoko mengatakan kerusakan parah membuat warga tidak bisa kembali ke rumah dan harus menetap di sejumlah titik pengungsian, termasuk di bandara Kahramanmaras.

Bandara tersebut merupakan salah satu titik tujuan Pesawat C-130 RI mendistribusikan logisitik dan mengevakuasi korban untuk kembali ke Ankara. Perasaan campur aduk pun dialami Yudi serta seluruh kru saat berinteraksi dengan para korban selama melakukan proses tersebut.

Baca: Komitmen Indonesia untuk Bantu Turki, Prabowo Instruksikan Kru dan Pesawat TNI AU Lanjutkan Distribusi Logistik

"Kami membawa anak kecil yang orang tuanya tidak punya apa-apa, dia hanya dibekali selimut karena cuaca memang dingin sekali. Ada juga ibu dan bayi yang hanya bisa bertahan di bandara karena listrik di rumahnya mati. Ibu ini menangis bisa kita bawa ke Ankara," jelas Yudi.

Wisoko mengatakan, pihaknya sangat senang dapat membantu Turki menghadapi situasi sulit yang sedang berlangsung saat ini. Kendati mengalami sejumlah tantangan, Wisoko memastikan kru yang saat ini bertugas dalam Operasi Kemanusiaan di Turki akan menjalankan misi dengan sebaik-baiknya.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.