HANKAM

KSAD: Kekuatan TNI Angkatan Darat Belum Ideal Karena Masalah Anggaran

Yonif Raider 200
Ilustrasi prajurit Yonif Raider 200/BN saat pemeriksaan kesiapan operasi. (Foto: Dok. Penerangan Kodam Sriwijaya)

Jakarta, IDM - Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Dudung Abdurachman mengatakan segi kekuatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat atau TNI AD masih belum ideal karena masalah anggaran.

Pasalnya, kata Dudung, saat ini jumlah personel TNI AD masih berjumlah 76 persen atau 400 ribu dari jumlah personel ideal dari segi kekuatan.

“Idealnya hampir 500 ribu. Tapi yang ideal itu harus sebanding dengan anggaran,” kata Dudung dikutip dari Tempo, Senin, (22/5).

Baca Juga: Praka Jamaluddin, Baru Menikah Seminggu Berangkat ke Papua dan Gugur Ditembak KKB

Dudung mengungkapkan porsi anggaran masih banyak dialokasikan untuk belanja pegawai dan biaya rutin. Ia mengakui ada keterbatasan anggaran pada batalion dan komando daerah militer.

“Alutsista (alat utama sistem persenjataan) juga sama. Kami menyesuaikan anggaran,” ujarnya.

Dudung mengatakan sekitar 60 persen alutsista untuk Angkatan Darat. Namun ia menuturkan jumlah itu pun tidak cukup banyak.

Di tengah keterbatasan anggaran tersebut, Dudung berupaya melakukan efisiensi dan apa yang dia sebut mengembalikan TNI Angkatan Darat pada trahnya. Salah satu yang ia lakukan adalah penerimaan Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) harus melalui seleksi ketat. Sebab, kata dia, hal ini berpengaruh pada pola pembinaan.

“Sebelum saya memimpin, tidak ada seleksi sehingga begitu mudahnya (orang masuk Seskoad). Akhirnya, mereka (lulusan Seskoad) mengajukan tuntutan, dong. "Saya sudah sekolah, saya minta (pangkat) kolonel, jabatan." Kalau sebelumnya, seperti zaman Pak Mulyono (KSAD 2015-2018), ada seleksi,” papar Dudung.

Baca Juga: TNI AU dan RAAF Asah Kemampuan Patroli Maritim dalam Latma Albatross AUSINDO 2023

Selain di level menengah, Dudung juga menyerahkan wewenang werving (pengarahan dan penerimaan personel TNI) kepada Panglima Komando Daerah Militer. “Kalau untuk taruna kan kewenangannya di KSAD,” ujarnya.

Dudung menyebut dampak kebijakannya, salah satunya adalah agar tidak terjadi anggota menumpuk di level menengah. Sebab, kata dia, seleksi Seskoad tidak mudah dan butuh persiapan meliputi fisik dan jasmani, kemudian kesehatan, akademik, dan psikologi.

“Persiapan untuk ke Seskoad tidak saat seseorang berpangkat mayor. Saya saja dari letnan satu sudah mempersiapkan akan ke Seskoad saat nanti berpangkat mayor,” kata Dudung. (rr)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.