HANKAM

Kemhan: Siber TNI Bukan untuk Memata-matai Sipil

Karo Infohan Setjen Kementerian Pertahanan.
Karo Infohan Setjen Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen Frega Ferdinand Wenas Inkiriwang. (IDM/Faisal Ramadhan)

Jakarta, IDM – Kepala Biro (Karo) Infohan Setjen Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen Frega Ferdinand Wenas Inkiriwang, menyinggung kesalahan persepsi sejumlah pihak terhadap cakupan tugas dan operasi pertahanan siber yang tercantum dalam revisi Undang-Undang TNI.

"Saya tegaskan kembali, memang kemarin ada kesalahan dalam persepsi. Pada prinsipnya, tugas siber yang diberikan pada TNI dalam revisi undang-undang baru itu, bukan untuk memata-matai masyarakat sipil," kata Frega usai agenda pelepasan mudik oleh Kemhan, di Jakarta, Kamis (27/3) kemarin.

"Kita paham dalam era demokrasi, apalagi Indonesia dalam era demokrasi, apabila ada pandangan berbeda, mengkritisi instansi pertahanan atau pemerintah, itu merupakan salah satu bentuk ekspresi berdendam yang wajar," sambung dia.

Baca Juga: Torehan Prestasi, Letda Tek Firjatullah Jadi Lulusan Terbaik Taruna Asing di NDA Jepang

Frega menjelaskan, tugas pertahanan siber dalam revisi Undang-Undang TNI ditujukan kepada operasi informasi dan disinformasi yang mengancam kedaulatan negara hingga keselamatan bangsa.

"Tidak perlu khawatir nantinya menghambat kebebasan berekspresi, menyampaikan pendapat. Kita fokusnya dalam konteks yang lebih besar, kedaulatan negara dan keselamatan bangsa," jelas Frega.

Ia melanjutkan, saat ini banyak operasi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu bahkan eksternal (di luar negara) untuk menciptakan persepsi negatif, misinformasi, disinformasi atau malinformasi.

Baca Juga: TNI AL Perketat Patroli di Selat Malaka, Cegah Penyelundupan Selama Lebaran

"Jadi, informasi-informasi yang tidak benar, yang disebarkan ke masyarakat, ini juga bisa menimbulkan khawatiran. Apalagi dengan adanya algoritma ya, ketika sudah viral, itu walaupun tidak benar, sudah susah untuk diperbaiki," kata Frega.

Dia kembali menegaskan, Kemhan dan TNI tidak fokus pada sipil dalam konteks tugas dan operasi pertahanan siber, melainkan untuk menghadapi ancaman kedaulatan dan keselamatan bangsa.

"Kemhan, khususnya TNI, tidak ada keinginan untuk memata-matai masyarakat sipil. Ini yang perlu digaris bawah. Karena kemarin yang beredar adalah Kemhan ingin menyasar mereka yang mengkritik pemerintah. Tidak ada keinginan untuk mematamatai masyarakat sipil. Tujuan kita adalah untuk menghadapi ancaman di ruang siber yang mengancam kedaulatan bangsa dan keselamatan bangsa," ujarnya. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.