Jakarta, IDM โย Namanya Direktorat Topografi Angkatan Darat (Dittopad TNI AD), lembaga ini jarang diketahui publik tapi tugasnya sangat penting yakni menyediakan peta topografi untuk mendukung kelancaran tugas para personel TNI Angkatan Darat.
Dalam momentum wawancara dengan Direktur Topografi Angkatan Darat (Dirtopad) saat itu, Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Adik Sugianto mengatakan Dittopad TNI AD ini dibentuk setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 26 April 1946.
Baca Juga: Momen Wakil KSAD Periksa Langsung Telepon Genggam Prajuritnya
Saat itu para pejuang kemerdekaan Indonesia berlaga untuk menguasai instalasi-instalasi pemerintah sipil dari Jepang termasuk merebut “Sokuryo Kyoku” (nama jawatan Topografi Jepang). Dittopad kemudian bernaung di bawah Kementerian Kehakiman lalu di serahterimakan ke Kementerian Pertahanan.
“Peran Topografi dalam mendukung tugas pokok TNI Angkatan Darat sangat dibutuhkan terutama yang berkaitan dengan penyediaan dan penyajian informasi topografi atau geospasial dalam bentuk peta topografi, data dan analisa medan serta produk topografi lainnya. Berbagai produk topografi sangat diperlukan bagi prajurit dalam melaksanakan tugasnya, baik dalam operasi keamanan dalam negeri hingga penugasan luar negeri,” kata Adik seperti dikutip dari majalah Indonesia Defense Megazine, Senin, (26/8/2024).
Lanjutnya, saat ini Dittopad memiliki kurang lebih 120 personel dari berbagai keahlian yang tergabung dalam Detasemen Survei dan Pemetaan (Densurta). “Para personel ini berperan langsung dalam Operasi Militer Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) serta pendidikan dan latihan di Angkatan Darat,” lanjut Adik.
Baca Juga: Berkunjung ke PT PAL, TNI AD Terima Paparan Teknologi Digital Industri Maritim 4.0
Dalam perjalanannya Dittopad melakukan berbagai kerja sama operasi pemetaan dengan berbagai negara. Pada tahun 1969, lembaga ini bersama Australia melaksanakan Operasi Mandau di Kalimantan Barat; Operasi Gading di Sumatera; Operasi Cenderawasih di Irian Jaya; Operasi Pattimura di Daerah Maluku; dan Operasi Nusa Barat dan Nusa Timur yang meliputi pulau-pulau sebelah barat dan timur.
Pada tahun 1989 Dittopad akhirnya mampu melaksanakan pemetaan secara mandiri yaitu mulai dari operasi pemetaan Simeuleu, Natuna, pemetaan daerah perbatasan RI-Malaysia, RI-PNG, RI-Timor Timur sebagian daerah Irian Jaya dan Kepulauan Miangas serta pemetaan lainnya yang sampai sekarang telah mencapai 78 persen dari seluruh liputan wilayah nasional. (rr)