Siti Manggopoh, Pemimpin Perang Belasting dari Ranah Minang

BACA JUGA

Jakarta, IDM Siti Manggopoh, lahir di Manggopoh, Agam, Sumatera Barat, pada 1880. Ia terkenal berani mengobarkan Perang Belasting (Pajak) terhadap Belanda pada 1908. Siti adalah seorang perempuan yang memimpin sekelompok pasukan menyerbu benteng Belanda di Manggopoh, letaknya tak jauh dari benteng Fort de Cock.

Dikutip dari buku Perempuan-perempuan Pengukir Sejarah, ditulis oleh Mulyono Atmosiswartoputra, Sabtu (9/7), sebelum mengobarkan pertempuran, Siti bersama sang suami, Rasyid Bagindo, berhasil menghimpun kekuatan-kekuatan pascaterjadinya Perang Kamang beberapa waktu sebelumnya. Ia melancarkan serangkaian serangan dari dalam hutan dengan cara mengendap masuk ke area pertahanan benteng Belanda.

Hanya berbekal senjata parang, keris, ruduih dan ladiang (sejenis golok), dengan tekad bulat, Siti memulai serangan di malam hari. “Setapak takkan mundur, selangkah takkan kembali”, begitulah motto hidupnya. Sebelum menyerang, Siti mengintai kondisi benteng dengan cara menggendong bayinya. Hal ini dilakukan, agar Belanda tidak menaruh curiga. Kemudian, ia berhasil mendapatkan catatan mengenai kekuatan Belanda secara lengkap.

Sang suami, Rasyid Bagindo, bertugas berjaga di luar benteng ketika terjadi penyerangan. Untuk mempersiapkan perlawanan kedua, saat pasukan Siti menggempur pertahanan Belanda di dalam benteng. Ternyata, tidak perlu menunggu waktu lama, pasukan Siti Manggopoh yang berhasil merangsek masuk ke benteng, berhasil membunuh 53 pasukan penjaga.

Walau mengalami luka saat melakukan gerakan mundur, Siti bersama para pejuang lainnya berhasil lolos dari serangan balasan Belanda. Seketika perang gerilya dilakukan dari dalam hutan, dengan bekal semangat juang dari seorang ‘mande’ (ibu dalam bahasa Minang) yang masih menyusi anaknya. Ya, ialah Siti Manggopoh, salah seorang pejuang yang namanya nyaris terlupakan kini.

Dikutip dari laman kemdikbud.go.id, Perang Belasting terjadi akibat penerapan pajak yang berlebihan oleh Belanda, baik terhadap kaum Paderi atau Adat, yang pada masa lampau berhasil diadudomba. Namun, dalam Perang Belasting, semua elemen bersatu untuk melawan. Walaupun, tidak lebih besar dari perlawanan yang dilakukan pada masa Imam Bonjol.

Siti wafat pada 20 Agustus 1965 di Gasan Gadang, Pariaman, Sumatera Barat. Jenazah Siti dimakamkan dengan upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Lolong, Padang. Meski belum ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, pemerintah mengakui jasa-jasa Siti dan menetapkannya sebagai Perintis Kemerdekaan sejak 1964. (at)

EDISI TERBARU

sidebar

BERITA TERBARU

POPULER