Militer China Perkuat Peran di Bidang Kedokteran

44
PLA menjadi rujukan penanganan pandemi viruscorona di China. /Dok. Chine Nouvelle

JAKARTA, IDM – Pandemi memberi ‘pekerjaan rumah’ tambahan bagi negara-negara dunia terdampak. Hampir semua negara berpacu dengan waktu menemukan vaksin untuk membebaskan warganya dari jerat viruscorona (COVID-19). Tak terkecuali China. 

Tak banyak yang tahu lembaga militer terbesar di dunia, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA), bukan hanya fokus pada pertahanan—merujuk pada kedaulatan negara secara geografis maupun siber. Mereka serius mengembangkan riset medis yang tak hanya modern, tapi juga mutakhir. 

Upaya ini dimulai sejak lima tahun lalu. Pada 2015 PLA mempercepat proses rekrutmen ilmuwan dan investasi di bidang kedokteran sebagai bagian dari strategi modernisasi pertahanan. Dan, pandemi ini menguji sekaligus membuktikan kapasitas PLA di bidang riset medis, termasuk perannya dalam mengembangkan vaksin viruscorona pertama dunia untuk penggunaan terbatas. 

“China jelas mencoba ‘memanfaatkan’ krisis dari perspektif kehumasan,” ujar Abigail Coplin, yang mengkaji industri bioteknologi China di Vassar College, Poughkeepsie, New York, AS, seperti dinukil dari Nature, 11 September 2020. 

Adalah peneliti medis Mayor Jenderal Chen Wei dari Institut Bioteknologi Beijing—bagian dari Akademi Ilmu Kedokteran Militer—memimpin tim yang mengembangkan vaksin. Termasuk dalam tim antara lain kolaborator dari lembaga pemerintah, universitas, dan perusahaan farmasi CanSino Biologics yang berbasis di Tianjin.

Pada Juli 2020 mereka menjadi salah satu tim pertama di dunia yang menerbitkan hasil riset. Jurnal itu menyebut vaksin viruscorona aman dan ampuh merangsang respons imun. Pemerintah pun mengizinkan vaksin tersebut (Ad5-nCoV) diberikan kepada personel militer sebelum uji coba skala besar untuk membuktikan kemanjurannya.  

Wei dan anggota timnya termasuk yang pertama, sejauh ini dari ribuan lain di militer, yang menerima vaksin. Hanya, Chen dan Institut Bioteknologi Beijing tidak menanggapi permintaan komentar dari Nature tentang hasilnya.

Wacana Propaganda

Adam Ni, analis Australian National University di Canberra yang mendalami PLA mengatakan, bila vaksin itu pada akhirnya digunakan secara luas sebelum negara lain seperti Amerika Serikat (AS) sempat melakukannya, “Ini akan menjadi kemenangan propaganda yang cukup besar bagi Beijing,” tuturnya. 

Selain kontribusi pada pengembangan vaksin viruscorona, PLA juga andil dalam penanganan pandemi di China. Termasuk mengirim bantuan ke sejumlah negara terdampak pandemi dan menawarkan vaksin untuk menjalin hubungan.

Militer lain, termasuk AS, juga membuat vaksin dan melakukan riset medis. Namun, kelembagaan PLA yang besar dari segi jumlah dan kecepatan reformasi yang sedang berlangsung membuat transformasi ilmiahnya patut diperhatikan. “Di sisi lain, fenomena ini jadi sorotan seiring meningkatnya ketegangan politik antara AS dan China,” kata dia.

Beberapa bulan terakhir, pejabat keamanan AS menuding China mencoba memata-matai dan mencuri informasi dari perusahaan farmasi AS dan kelompok penelitian universitas yang mengerjakan vaksin viruscorona. Para ilmuwan juga mempertanyakan etika pemanfaatan vaksin yang masih dalam taraf diuji coba untuk digunakan di militer.

Sains Jadi Prioritas

Pada 2015 Presiden Xi Jinping mengumumkan reformasi yang menjadikan sains dan inovasi elemen kunci modernisasi Angkatan Bersenjata China.

Elsa Kania, yang mendalami analisis strategi militer China di Center for a New American Security, Washington DC, mengungkapkan PLA membentuk cabang militer kekuatan-perang siber, elektronik, dan luar angkasa. Keberadaannya mendukung sistem militer mereka yang lebih konvensional yakni angkatan darat, laut, dan udara.

Dan, pada 2016 Komisi Sains dan Teknologi, yang memutuskan jenis penelitian yang didanai, menjadi salah satu dari 15 ‘bagian’ militer yang baru dibentuk.

“Berubah total dari militer era 1970-an dan 1980-an yang besar, tapi jelas tidak profesional dan tidak maju secara teknologi, menjadi militer yang jauh lebih tangguh,” kata Ni.

Reformasi tersebut juga memindahkan Akademi Ilmu Kedokteran Militer—yang memimpin pengembangan vaksin Ad5-nCoV—di bawah payung Akademi Ilmu Militer. Akademi ini merupakan institusi strategi militer utama PLA yang menjadi induk sembilan lembaga riset lainnya.

Rekrutmen Warga Sipil

Sebelum reformasi, PLA merekrut ilmuwan dari lingkaran internal, juga menyerap lulusan kampus-kampus bidang pertahanan. Menurut Ni, tak banyak ilmuwan di luar lingkup kemiliteran ambil bagian. “Risetnya kurang menarik bagi mereka,” tuturnya. 

Faktanya, ilmuwan berseragam wajib memiliki kondisi fisik yang bagus, sementara gaya kerjanya kurang fleksibel dibanding lembaga sipil.

Namun, sejak 2018 PLA mulai menarik lebih banyak ilmuwan berpengalaman dari luar (militer). Mereka berinovasi, merombak sejumlah posisi menjadi lebih menarik. Mereka juga menambah slot untuk perekrutan ahli di bidang kedokteran.

Analisis Kai Lin Tay dari International Institute for Strategic Studies di London, Inggris, menyebut Akademi Ilmu Kedokteran Militer telah merekrut 213 warga sipil untuk posisi penelitian ilmiah, menjadikannya perekrut bakat ilmiah tertinggi kedua di 10 lembaga penelitian Akademi Ilmu Militer. 

“Sekarang mereka lebih mengandalkan warga sipil daripada kader militer untuk memenuhi kebutuhan penelitian ilmiahnya,” tulis Tay.

Angkatan bersenjata juga menjalin hubungan dengan kampus-kampus sipil di China, merujuk kebijakan gabungan militer-sipil pada 2015. Afiliasi mahasiswa dari kampus pertahanan dan non-militer jadi hal yang biasa. Termasuk riset bersama. 

Unjuk Gigi

Sulit dibantah, pandemi menjadi kesempatan sekaligus ‘pangggung’ bagi China untuk menyoroti capaian-capaian penting militer di bidang sains, baik di ranah domestik maupun internasional. 

Ahli epidemiologi dan tenaga medis PLA misalnya. Mereka memainkan peran penting dalam merawat pasien, memonitor pergerakan wabah, dan memantau distribusi kebutuhan medis di Wuhan. 

Di lain pihak, militer China ambil bagian dalam penanganan pandemi di sejumlah negara seperti Pakistan, Iran, Irak, Lebanon, Vietnam, Laos, Myanmar, Kamboja, dan Italia. Mereka menerjunkan satuan dan bantuan. 

Sementara itu, Ian McCaslin, analis militer China yang berafiliasi dengan Institut Studi Dirgantara China, Universitas Air, di Washington DC, mengatakan vaksin ‘buatan’ PLA meningkatkan citra dan pengaruh China secara geopolitik. Terutama bila Beijing memberi negara-negara sahabat akses prioritas pada vaksin.

Uji coba vaksin fase ketiga kini berlangsung di Rusia, Meksiko, Arab Saudi, dan Pakistan. (ISA/WAN)