Mengulik Perjuangan PGT dalam Operasi Serigala di Irian Barat

123
(Dok TNI)

Jakarta, IDM – Perjuangan 120 Prajurit Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dikerahkan dalam mengemban misi Operasi Tri Komandan (Trikora) pada 17 Mei 1962, menyisakan peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Pengerahan Operasi Militer secara besar-besaran pada (Trikora) tersebut untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia atas Irian Barat dari Belanda, termasuk keberadaan PGT AURI yang diterjunkan di dataran Irian Barat (Klamono – Sorong dan Teminabunan – Sorong Selatan) melalui Operasi Serigala.

Pada Operasi Srigala tersebut menjadi momen yang sangat penting karena PGT pimpinan Manuhua berhasil mewujudkan perintah Presiden Soekarno, yakni “Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air di Indonesia”. Tim PGT AU ini menjadi kelompok pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di tanah Papua.

Pada saat itu, para prajurit diturunkan dengan menggunakan pesawat C-130 Hercules. Pesawat Hercules C-130 take off dari Lapangan Udara Laha Ambon pukul 01.00 dini hari. Situasi pada saat itu cuaca sedang buruk dan pemandangan menjadi sangat gelap, sehingga tidak terlihat daratan.

Karena cuaca tidak mendukung, pasukan yang terjun pun berserakan dan berjatuhan. Beberapa saat mereka turun, merekan pun disambut dengan suara tembakan dari darat yang dilakukan oleh tentara Belanda.

Pada akhirnya, beberapa dari anggota PGT harus gugur dalam pertempuran tersebut. Bahkan beberapa di antaranya juga ada yang sempat ditahan oleh Belanda. Sementara itu, sisa pasukan yang masih bertahan harus bergerilya masuk ke hutan.

Mereka pun terus dikejar dan dikepung oleh tentara Belanda yang memiliki persenjataan yang lebih canggih. Tidak hanya itu, pasukan PGT juga mendapat serangan udara dari pesawat Neptune Belanda.

Dua hari kemudian pada tanggal 19 Mei 1962, Indonesia kembali menerjunkan 81 pasukan PGT dengan sandi ‘Operasi Serigala’ ke daerah Teminabuan-Sorong. Operasi Serigala ini berada di bawah pimpinan Letnan Muda Udara II Suhadi dan tetap menggunakan pesawat C-130 Hercules untuk membawa para pasukan.

Pada tanggal 19 Mei 1962, Sebanyak 81 prajurit Kopasgat diterjunkan dari pesawat angkut C-130 Hercules. Hercules C-130 menjadi pilihan pesawat yang membawa 81 prajurit lantaran pesewat ini mampu terbang di atas ketinggian 30.000 feet dengan kecepatan 300 NM sehingga mampu mengatasi ancaman dari pesawat tempur Neptune milik Belanda.

Tepat pukul 02.30, satu persatu prajurit melompat dari Hercules C-130 di tengah kegelapan malam Papua. Lagi dan lagi pasukan yang diterjunkan harus mengahadapi kerasnya alam Papua. Tidak sedikit pasukan yang tersangkut di pohon serta tercebur di rawa-rawa.

Bahkan ada pula pasukan mendarat tepat di markas Belanda di kampung Wersar seperti yang dialami PU I Lili Sumarli, PU I Gunarso dan Kapten Udara (KU) II Alex Sangido serta KU II Wangko. Akibatnya, pertempuran di malam hari tidak terhindarkan. Dalam pertempuran tersebut Kapten Udara (KU) II Alex Sangido dan KU II Wangko ditemukan gugur.

Sementara itu, tentara Belanda yang mendapat serangan mendadak dari Pasukan Gerak Tjepat ini pun langsung kocar-kacir melarikan diri. Setelah berhasil menguasai Kampung Wersar, SMU Mengko kemudian salah satu prajurit PGT mengeluarkan Bendera Merah Putih dari ranselnya. Kemudian prajurit PGT menebang pohon setinggi 4 meter dan bendara Merah Putih pun diikat serta ditancapkan.

Penancapan Bendera Merah Putih itu disaksikan oleh para pasukan PGT yang berkumpul di sekitarnya. Mereka kemudian memberikan hormat. Lokasi ini menjadi tempat bersejarah karena untuk pertama kalinya Bendera Merah Putih berkibar di Irian Barat. (ADT)