Rabu, 28 Februari 2024

Mengapa Insiden Manuver Agresif Cina dan AS Terus Terjadi?

BACA JUGA

Jakarta, IDM – Hubungan antara Cina dan Amerika Serikat (AS) terlihat semakin panas selama beberapa waktu terakhir. Hal itu disebabkan oleh dua insiden yang terjadi hanya berselang dua minggu.

Pertama, Angkatan Udara AS menyebut pesawat J-16 Cina telah melakukan manuver agresif dan hampir bertabrakan dengan pesawat RC-135 AS di atas Laut Cina Selatan yang merupakan wilayah udara internasional pada Jumat (26/5).

Kedua, Angkatan Laut AS menuduh kapal perang Luyang III (DDG 132) Cina telah melakukan tindakan konfrontatif dengan berlayar mendekati kapal perusak Chung-Hoon AS dalam jarak hanya 137 meter di perairan internasional Selat Taiwan pada Sabtu (3/6).

Baca Juga: Iran Pamer Rudal Hipersonik Fattah, Diklaim Mampu Tembus Pertahanan Udara Manapun

Dilansir dari Reuters, Rabu (7/6), para peneliti menganalisis penyebab dan dampak yang ditimbulkan dari insiden tersebut.

Cina Terus Mendorong Postur Militer

Di bawah Presiden Xi Jinping, Cina memiliki ambisi untuk membangun kapasitas dan kapabilitas militer secara besar-besaran. Beberapa analis menilai Beijing telah menggunakan kekuatan ekonomi dan militer ini untuk menggeser dominasi AS.

Pejabat Cina seringkali mengungkapkan bahwa AS merupakan pihak asing yang ikut campur dalam masalah keamanan dan justru mengganggu stabilitas perdamaian di kawasan Asia Pasifik. Menanggapi sikap AS itu, Cina akhirnya menunjukkan postur kekuatan militer yang kuat di wilayah tersebut.

Namun, analis pertahanan senior RAND Corporation Derek Grossman menilai, sikap AS dan Cina yang saling unjuk kekuatan tersebut lambat laun mungkin akan memicu konflik terbuka.

Baca Juga: Bendungan Pembangkit Listrik Ukraina Hancur, Ini Dampaknya Bagi Rusia

“Dalam pandangan saya, ini adalah skenario nomor satu yang membawa AS dan Cina berperang,” katanya.

Haluan yang Bertabrakan

Konflik antara Cina dan AS pada dasarnya disebabkan oleh perbedaan pandangan terkait apa yang boleh dan tidak boleh. Perbedaan utamanya yaitu Cina memandang Taiwan sebagai bagian dari negaranya sedangkan AS seringkali menunjukkan sikap yang mendukung pemerintah Tsai Ing Wen secara sepihak.

Tong Zhao, seorang analis dari Princeton University’s School of Public and International Affairs mengungkapkan, otoritas pertahanan Cina dan AS masing-masing memandang segala tindakannya sebagai upaya untuk mempertahankan keamanan di kawasan.

Baca Juga: ASPI: Cina Dominasi Teknologi, Waspada Dampaknya pada Stabilitas Perdamaian

“Pejabat Cina umumnya tidak melihat tindakannya berkontribusi meningkatkan risiko konflik. Jadi, argumen mereka adalah Cina hanya dapat mengurangi risiko dengan meningkatkan tindakan militernya untuk melawan perilaku agresif Amerika. Dan baru setelah itu, AS pada akhirnya akan mengambil langkah-langkah yang dinilai diperlukan untuk mengurangi risiko,” katanya.

Tidak Ada Komunikasi yang Signifikan

AS dan Cina tidak menjalin komunikasi secara signifikan untuk mencari jalan tengah bagi keduanya. Sebelumnya, AS mengaku telah berupaya mendorong Cina membuka jalur komunikasi untuk mengurangi resiko gejolak militer. Di sisi lain, Cina memilih untuk tidak membangun komunikasi setelah mantan Ketua DPR AS Nancy Pelosi berkunjung ke Taiwan dan insiden tuduhan balon pengintai intelijen. (bp)

BERITA TERBARU

EDISI TERBARU

sidebar
ads-custom-5

POPULER