Kenang, Sejarah Hari Bhakti TNI AU yang Diperingati Tiap 29 Juli

119
Photo. Dok: TNI AU

Hari Bhakti TNI AU diperingati setiap tanggal 29. Peringatan ini dilatarbelakangi oleh serangan udara di tiga daerah dan wafatnya tiga pelopor TNI AU pada 74 tahun yang lalu.

Latar belakang sejarah tak lepas dari peristiwa besar yang memiliki makna mendalam bagi para prajurit TNI Angkatan Udara.

Dilansir dari situs resmi TNI AU, Hari Bhakti TNI AU didasarkan atas dua peristiwa penting, yaitu:

Pertama, serangan udara TNI AU terhadap daerah pendudukan Belanda di Ambarawa, Salatiga, dan Semarang, yang dilakukan oleh Kadet Penerbang Sutardjo Sigit, Suharmoko Harbani, dan Mulyono, dibantu tiga orang teknisi bertindak sebagai penembak udara yaitu Sutardjo, Kaput, dan Dulrachman. Serangan udara yang dilakukan menjelang subuh itu menggunakan dua buah pesawat Cureng dan sebuah Guntei.

Kedua, gugurnya tiga pelopor dan perintis TNI AU, masing-masing Komodor Muda Udara Adisucipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, dan Opsir Muda Udara Adisumarmo. Ketika, pesawat Dakota VT-CLA yang dinaiki serta membawa obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya, ditembak pesawat Belanda Kitty-hawk dan jatuh di Desa Ngoto, 3 km selatan Yogyakarta.

Peristiwa Hari Bhakti TNI AU Merupakan Hari Penyerangan Udara ke Pendudukan Belanda.

Peristiwa tersebut berawal dari perjanjian Linggarjati yang dilanggar oleh pihak Belanda. Secara sepihak, Belanda memutuskan hubungan diplomatik dan mengambil tindakan militer, mengkhianati perjanjian yang saat itu bertujuan menyelesaikan konflik antara Indonesia dan Belanda.

Pada 21 Juli 1947, terjadi Agresi Belanda I. Belanda mengadakan serangan serempak ke sejumlah daerah, termasuk beberapa pangkalan udara. Salah satu sasaran serangan Belanda adalah Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta, yang dianggap sebagai pusat kekuatan udara RI.

Sayangnya, karena cuaca buruk serangan tersebut gagal. Kemudian Belanda mengalihkan serangan ke sejumlah pangkalan udara lain seperti Pangkalan Udara Panasan Solo, Maospati Madiun, Bugis Malang, Pandanwangi Lumajang, Gorda Banten, Kalijati Subang, Cibeureum Tasikmalaya, hingga Pangkalan Udara Gadut Bukittinggi, Sumatera Barat.

Aksi Belanda itu menimbulkan kemarahan pimpinan TNI AU. Mereka menyusun rencana guna melakukan serangan balasan. Pada 28 Juli 1947 sekitar pukul 19.00, empat kadet penerbang yaitu Suharnoko Harbani, Sutardjo Sigit, Mulyono dan Bambang Saptoadji diperintahkan menghadap secara rahasia ke KSAU Komodor Udara Suryadi Suryadarma dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma. Panggilan ini terkait rencana operasi udara yang ditugaskan kepada empat kadet penerbang tersebut untuk menyerang kedudukan Belanda.

Pada 29 Juli 1947 pukul 05.00 pagi, operasi udara ke kubu militer Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa dilancarkan TNI AU. tiga pesawat AURI terdiri dari pesawat Guntei dan dua pesawat terbang Cureng take off secara berurutan di lapangan terbang Maguwo.

Pesawat Guntei yang diterbangkan oleh Mulyono dan Dulrachman sebagai “air-gunner” terbang terlebih dahulu.Kemudian disusul pesawat Cureng yang dikemudikan oleh Sutardjo Sigit yang dibantu Sutardjo sebagai “air-gunner”. Selanjutnya Suharnoko Harbani dengan Kaput juga menggunakan pesawat Churen merupakan pesawat yang terakhir mengangkasa.

“Operasi udara ini ditinjau dari sisi militer tidak akan membawa pengaruh yang menakjubkan, namun secara psikologis merupakan pukulan berat bagi pihak Belanda“. demikian disampaikan KSAU Komodor Udara S. Suryadarma sebelum pelaksanaan operasi saat itu.

Setelah mengadakan pengoboman di tiga kota itu, sebelum jam 6 pagi, ketiga pesawat sudah mendarat kembali dengan selamat di Pangkalan Udara Maguwo.

Aksi serangan pagi buta yang dilancarkan TNI AU kemudian dibalas oleh Belanda. Pada sore harinya, dua pesawat pemburu Belanda P-40 Kitty Hawk menembak Pesawat Dakota VT-CLA, yang membawa obat-obatan sumbangan Palang Merah Malaya kepada Palang Merah Indonesia.

Diketahui pesawat Dakota VT-CLA meninggalkan Singapura pada pukul 13.00 siang hari menuju Pangkalan Udara Maguwo. Setelah tiga jam terbang, pesawat yang diterbangkan oleh Alexander Noel Constantine bersiap-siap hendak mendarat di lapangan terbang Maguwo.

Saat roda-roda pendaratan baru saja keluar, tiba-tiba muncul dua pesawat P-40 Kitty Hawk dan tanpa peringatan memberondong dengan senapan mesin. Akibatnya pesawat Dakota VT-CLA oleng karena mesin sebelah kiri terkena tembakan. Sebelum jatuh ke tanah, sayap sempat menghantam pohon dan jatuh di pematang sawah di desa Ngoto, Bantul sebelah selatan kota Yogyakarta.

Akibat insiden tersebut, seluruh awak dan penumpang lainnya gugur, mereka adalah Alexander Noel Costantine (pilot kebangsaan Australia), Ny. A.N. Constantine, Roy Hazelhurst (co pilot), Bhida Ram (juru tehnik), Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Komodor Muda Udara A. Adisutjipto, Opsir Muda Udara Adi Soemarmo Wirjokusumo, Zainal Arifin. Satu-satunya penumpang yang selamat adalah Abdulgani Handonotjokro.

Ditetapkanya Hari Bhakti TNI AU

Peristiwa gugurnya pada tokoh dan perintis TNI AU kemudian diperingati sebagai Hari Berkabung AURI sejak 29 Juli 1955. Kemudian sejak 29 Juli 1962, untuk mengenang dan mengabadikan peristiwa tersebut, diubah menjadi ‘Hari Bhakti TNI AU’, di mana seluruh warga TNI AU memperingatinya secara terpusat di Pangkalan Udara Adisutjipto. Sementara itu, lokasi jatuhnya pesawat Dakota VT CLA di desa Ngoto diresmikan menjadi Monumen Perjuangan TNI AU, sesuai Surat Keputusan KSAU Nomor: Skep/78/VII/2000 tanggal 17 Juli 2000.

Bersamaan dengan itu, kerangka jenazah Marsda TNI (anumerta) Adisucipto dan Marsda TNI (anumerta) Abdulrachman Saleh beserta istri dipindahkan dari TPU Kuncen Yogyakarta ke pemakaman TNI AU Ngoto Yogyakarta. (wan/man)