Kemenangan AS Atas Jepang di Morotai

BACA JUGA

IDM – Morotai merupakan saksi bisu dari Tragedi Perang antara AS dan Jepang yang berlangsung sejak 15 September 1944 hingga 14 Januari 1945. Jenderal Douglas MacArthur memilih Morotai sebagai bagian dari strategi mengalahkan Jepang dalam Rangkaian Perang Pasifik. Pulau Morotai adalah anggota dari Kepulauan Maluku berukuran 1.800 km², terletak 300 mil barat laut Sansapor, Papua Nugini. Wilayah hutan belantara yang belum sepenuhnya terjamah ini di duduki Garnisun Jepang berjumlah 1.000 orang.

C. Peter Chen dalam Battle of Morotai menyebutkan, Laksamana Madya Daniel E. Barbey berlayar membawa pasukan Divisi Infanteri AS ke-31 Mayor Jenderal John Persons dan Resimen Infanteri ke-126 dari Divisi ke-32 ke Morotai, sekaligus menjadi Pasukan AS pertama yang mendarat tanpa perlawanan. Oleh karena mayoritas tanah di pulau ini adalah lumpur dan ditutupi pepohonan, dibutuhkan waktu dua Minggu hingga akhirnya AS menemukan lokasi untuk membangun landasan udara. Kemudian pesawat tempur B-24 Liberator Angkatan Udara AS ke-13 mendarat di Lanud tersebut sesaat setelah pembangunan selesai.

Disisi lain, Jepang membuat pusat pertahanan pasukan di daerah Bukit 40. Mereka mengirim patroli pengintaian dan mengarahkan tentaranya untuk mengganggu perimeter pangkalan AS. Awalnya AS menganggap Jepang sebagai pasukan yang lemah, hingga pada 24 Desember, Jepang melakukan serangan udara paling efektif yang menghancurkan Lanud dan beberapa pesawat tempur B-24 AS. Menanggapi serangan ini, pasukan yang terluka akhirnya dibantu oleh Resimen ke-136 Divisi ke-33 dibawah komando Kolonel Ray E. Cavenee.

AS terus mengirimkan pasukannya hingga memiliki 3 batalion. Mereka berencana untuk mengepung pasukan Jepang yang memiliki dua infanteri batalion, dua mortir, dan beberapa senapan mesin. Pertempuran puncak dimulai pada 3 Januari, ketika Cavenee bersama Komandan Batalion 1 Lewis L. Hawk, menyerang dari selatan dan Komandan Batalion 2 Arthur T. Sauser menyerang dari barat.

Medan yang dipenuhi pohon, menyulitkan pasukan AS menggunakan senapan mesin dan mortar. Karena setiap upaya untuk menggunakan mortar telah mengakibatkan rusaknya pohon yang membahayakan pasukan.  Begitupun penggunaan senapan mesin, jarak antar pohon yang paling tidak 6 meter, membuatnya tidak efisien.

Keesokan harinya, Pasukan AS dan Jepang memutuskan untuk bertempur menggunakan granat dan senjata ringan karena jarak mereka yang semakin dekat. Hingga pada malam hari, AS berhasil melumpuhkan garis pertahanan Jepang tersebut. Sementara itu, Komandan Batalion 3 Ralph Pate menyerbu Pasukan Jepang di wilayah Radja hingga akhirnya bersatu dengan batalion lain di Bukit 40.

Pada 5 Januari, Perwira Jepang dengan samurai yang memimpin 10 orang, secara diam-diam berencana menyerang pasukan AS. Namun, upaya tersebut gagal karena mereka tewas ditembak oleh pasukan AS. Setelah penembakan ini, 3 Batalion AS dari Resimen ke-136 bergegas menyerang pusat pertahanan Jepang di Bukit 40. Serangan ini sekaligus menjadi kemenangan AS karena mereka berhasil mengambil alih pos komando pusat Jepang yang berisi suplai amunisi, medis dan alat komunikasi radio. Pertempuran ini menewaskan 870 Pasukan Jepang dan 46 Pasukan Amerika. (BP)

EDISI TERBARU

sidebar

BERITA TERBARU

POPULER