Jenderal Moersjid: Nasib Mujur Si Jagoan Tempur

772
Moersjid sewaktu menjadi perwira menengah di Divisi Siliwangi. (Dok. Keluarga Moersjid).

Jakarta, IDM-Namanya memang tidak setenar Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal Nasution. Tetapi siapa sangka Presiden Republik Indonesia pertama sempat dibuat ‘kecut’ oleh seorang perwira militer Indonesia. Dia adalah Mayor Jenderal Moersjid, yang dikenal memiliki perilaku apa adanya, dia merupakan salah seorang perwira tinggi terpenting di akhir kekuasaan Presiden Soekarno.

Bahkan saat G30S/PKI, Menteri/Panglima AD (Menpangad) Letjen TNI Ahmad Yani dikabarkan hilang. Melalui siaran RRI pagi, masyarakat mendengar adanya kudeta Dewan Jenderal dari kelompok yang menamakan diri sebagai dewan revolusi.

Sebagai Deputi I Menpangad di dalam urusan operasi, yang secara struktural merupakan orang kedua setelah Yani di jajaran TNI AD, Moersjid seyogyanya ikut diamankan bersama perwira tinggi lainnya. Tetapi sebuah peristiwa berhasil menyelamatkan nyawanya. Dia pun lolos dari daftar korban tewas malam itu.

Jenderal Moersjid saat dilantik menjadi Duta Besar untuk Filipina. (dok. Keluarga Moersjid)

Menurut penuturan putera ketiga Moersjid, Shiddarta Moersjid, dalam diskusi daring “Ada Apa dengan 1 Oktober 1965: Kisah Mengenai Dedikasi, Integrasi, dan Pengorbanan Demi Membangun Harapan untuk Indonesia”, Sabtu (30/9), pada malam 1 Oktober 1965 pukul 02.00 dini hari, sekelompok tantara berhenti di kompleks rumah Moersjid.

Mereka datang untuk menangkap Moersjid tetapi mereka tidak mengetahui secara persis lokasi lokasi rumah Moersjid. Karena tidak mendapatkan rumah Moersjid, para tantara itu akhirnya pergi.

Keesokan paginya, seseorang mengetuk pintu rumah Moersjid. Dia adalah dr. Sulaeman, seorang dokter di Angkatan Darat, yang rumahnya tidak jauh dari tempat Moersjid. “Tadi jam 2 atau jam 3 ada yang datang mencari kamu,” tutur Sulaeman begitu melihat Moersjid di balik pintu.

Menurut Siddahrta Tindakan berani Sulaeman itu berhasil menghindarkan Ayahnya dari maut. Namun faktor keberuntungan dirasa ikut andil dalam menyelamatkan hidup Moersjid. Mantan anggota Kodam Siliwangi tersebut sering terlibat dalam peristiwa antara hidup dan mati. Tetapi Moersjid selalu lolos dari peristiwa yang merenggut nyawanya.

Pernah satu waktu, di masa perang, Moersjid tengah berdiam di dalam sebuah gubuk. Tiba-tiba sebuah granat jatuh di atap gubuk tersebut, namun tidak meledak. Cerita lain, pernah Moersjid dihujani peluru oleh seorang yang tidak dikenal, tapi secara ajaib tidak ada satupun tembakan yang mengenai dirinya. Hidupnya kemudian terus berlanjut.

Sewaktu operasi pembebasan Irian Barat, Moersjid pernah mengajak Yani terlibat dalam suatu misi. Ajakan itu bertujuan memberi dukungan moril bagi prajurit garis depan. Namun Yani tak terpancing. Dengan dalih sibuk, Yani menolak. Pada Januari 1962, Moersjid –mewakili TNI AD– ikut memimpin infiltrasi ke Kaimana, Papua yang berujung Peristiwa Laut Aru.

“Untunglah, sewaktu saya ajak berangkat ke Irian, Jenderal Yani tak bersedia. Saya sendiri juga beruntung, (Komodor) Soedomo memindahkan saya ke KRI Harimau, bukan lagi di KRI Matjan Tutul,” kata Moersjid kepada jurnalis senior Julius Pour dalam Konspirasi di Balik Tenggelamnya Matjan Tutul.

Jenderal Moersjid bersama Siddharta (dok. keluarga Moersjid)

“Itu mungkin yang kalau saya lihat hoki nya dia (Moersjid) bagus. Dan saya juga akhirnya merasa bersyukur bahwa saya juga mempunyai hoki yang bagus karena memiliki seorang ayah yang hoki nya baik,” ucap Siddharta.

Pasca tragedi G30S/PKI, nama Moersjid sempat digadang-gadang menjadi pengganti Ahmad Yani. Menteri Panglima Angkatan Udara, Marsekal Omar Dani menyebutkan satu nama. “Moersjid, Pak,” katanya kepada Bung Karno dituturkan dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku yang disusun Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno.

Omar Dani menyebut Moersjid merujuk kebiasaan lazim di tiap angkatan untuk menunjuk deputi operasi sebagai standing order apabila panglima berhalangan. Moersjid sendiri adalah Deputi I Menpangad yang membidangi urusan operasi. Dari garis struktural, Moersjid merupakan orang kedua setelah Yani di jajaran TNI AD.

Siapa Moersjid?

Dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD, Harsja Bachtiar mencatat Moersjid lahir pada 10 Desember 1924 di Jakarta. Namun menurut keluarga, Moersjid lahir pada tanggal yang sama tahun 1925. Ayahnya Alip Kartodarmodjo orang Bagelen, Jawa Tengah sedangkan ibunya Djawahir asli Betawi.

Karier militer suami dari Siti Rachma berawal ketika Jepang menduduki Indonesia. Moesjid menjadi tantara PETA di Bogor saat itu berpangkat shodanco atau setara dengan komandan peleton. Saat revolusi fisik, Moersjid turut mengawal rombongan rakyat sipil yang hijrah dari Jawa Barat sampai ke Blitar, Jawa Timur. Dalam momen itulah Moersjid bertemu dengan Siti Rachma, gadis asal Banten yang kemudian dipersunting sebagai istri.

Moersjid saat menjadi tentara PETA (dok. keluarga Moersjid)

6 tahun setelah Indonesia merdeka, karir Moersjid kian moncer. Dia sudah berpangkat mayor kemudian promosi menjadi komandan resimen Divisi Siliwangi. “Tukang berantem dan gayanya tengil kata orang. Tingginya 185 cm dan beratnya 120 kg,” kata Sidha.

Nama Moersjid menonjol bersama Ahmad Yani setelah mereka turun ke palagan memadamkan perlawanan panglima pembangkang di daerah bergolak. Yani ditugaskan menumpas PRRI di Sumatera Barat dalam “Operasi 17 Agustus”. Sementara, Moersjid memimpin “Operasi Merdeka” untuk melumpuhkan Permesta di Sulawesi Utara.

Yani kemudian bertugas di Markas Besar (Mabes) TNI membantu KSAD Letjen Abdul Haris Nasution sebagai Deputi II. Moersjid sendiri tetap bertugas di Sulawesi menjadi panglima Kodam XIII/Merdeka yang memegang wilayah perang Sulawesi Utara dan Tengah. Ketika wilayah basis-basis Permesta semakin kondusif, Moersjid ditarik ke Mabes TNI di Jakarta.

Menurut pengakuan Sidha, Mabes TNI memiliki satu ruangan khusus yang disebut ruangan peta. Di ruang itulah Moersjid sehari-hari bekerja merancang strategi dan menyusun rencana operasi. Mahir dalam menganalisis topografi membentuk kebiasaan unik dalam diri Moersjid: tidur bersama peta. Kebiasaan tidur bersama peta-peta itu tetap terbawa hingga Moersjid purnabakti.