Hasil Seminar Nasional ke-6 TNI AD, Sishankamrata Masih Relevan Diterapkan

BACA JUGA

IDM – Seminar Nasional ke-6 TNI AD Tahun 2022 yang mengangkat tema “Reaktualisasi Doktrin Operasi Militer Matra Darat Dalam Menghadapi Ancaman Perang Masa Kini dan Masa Depan” di Seskoad, Bandung resmi selesai hari ini Selasa, (28/6).

Hasilnya, berbagai masukan berharga didapat TNI AD yaitu pertama, dalam membangun sebuah kekuatan, diperlukan kesiapan (readiness) untuk berperang kapanpun juga, oleh karena itu konsepsi Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) yang berfokus pada kemanunggalan TNI dengan rakyat, hingga saat ini masih relevan untuk diterapkan, namun perlu penyesuaian pada doktrin pelaksanaannya, termasuk bagaimana perlu dibangunnya postur pertahanan yang ideal dan _post recruit_nya atau penguatannya, termasuk di tingkat Batalyon dan Kompi.

Kedua, pertahanan tidak selalu harus bersifat defensif (offensive approach juga bisa menjadi opsi lain), dan doktrin ini harus menjadi patokan awal, paradigma, dan roh dari peperangan. Tentu dengan bertumpu pada strategic beliefs yang dimiliki oleh para pemimpin TNI AD.

Ketiga, prajurit TNI tidak cukup bermodalkan militansi, melainkan juga harus intelektual.

Keempat, peperangan saat ini sudah memasuki generasi ke-5 dengan kompleksitas yang terus meningkat. Selanjutnya, peperangan darat saat ini menjadi multidimensi. Sehingga tidak bisa jika hanya mengandalkan TNI sendiri saja, melainkan TNI harus menjalin kedekatan dengan rakyat. Hal ini sesuai dengan hasil survei selama empat tahun berturut-turut dari beberapa lembaga survei, yang selalu menempatkan TNI di peringkat satu sebagai lembaga negara yang paling dipercaya publik.

Keenam, semua menyepakati bahwa saat ini kita semua sedang berperang. Namun, yang terpenting adalah menentukan siapa sebenarnya musuh yang kita hadapi. Hal ini penting karena identifikasi tersebut yang akan menentukan bagaimana Tim Pokja menyusun Doktrin Operasi Militer Matra Darat ini ke depannya.

(Dok Dispenad)

Ketujuh, Doktrin Kartika Yudha nantinya akan disusun berdasarkan konsep perlawanan wilayah darat terpadu. Mulai dari tahap cipta kondisi, penangkalan penindakan, sampai dengan pemulihan. Dimulai dengan antar kecabangan, antar matra dan regular.

Kedelapan, doktrin ini harus operasional dan menggunakan self experience berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ada di negara kita dan negara-negara lain sebagai pembanding.

Kesembilan, menghilangkan dikotomi Operasi Militer Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) memerlukan usaha yang lebih besar, yang bisa berimbas pada revisi Undang-Undang selanjutnya.

Kesepuluh, taktik bertempur matra darat, bukan hanya memenangkan pertempuran tetapi harus juga memenangkan peperangan dan juga bisa menjawab kepentingan nasional.

Seminar ini dihadiri 1.095 peserta dengan delapan orang pemateri/narasumber. Acara digelar selama dua hari dari tanggal 27-28 Juni 2022.

Nantinya hasil seminar ini akan memperkaya rumusan perubahan doktrin operasi militer matra darat, peningkatan strategi kemampuan intelijen, pembinaan teritorial, hingga konsepsi taktik bertempur prajurit Kartika Eka Paksi di masa kini dan mendatang. (rr)

EDISI TERBARU

sidebar

BERITA TERBARU

POPULER