Dirgahayu RRI, Mengenal Moehammad Joesoef Ronodipoero, Jasa Besarnya Menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan ke Penjuru Dunia

96
Kantor RRI /Dok.Photo Kantor RRI

Tepat hari ini, merupakan hari yang sangat bersejarah bagi Republik Indonesia, dikutip IndonesiaDefenseMagz.com dari website resmi RRI tentang Sejarah RRI. Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan Presiden Sukarno pada 17 Agustus 1945, dua hari setelahnya radio milik pemerintah militer Jepang, Hoso Kyoku, dihentikan siarannya. Saat itu, masyarakat kurang mendapatkan informasi setelah Indonesia merdeka. Situasi semakin membingungkan karena radio-radio luar negeri kala itu mengabarkan bahwa pasukan Sekutu akan menduduki Jawa dan Sumatera setelah mengalahkan Jepang di Perang Asia Timur Raya yang menjadi rangkaian dari Perang Dunia Kedua.

Hal tersebut kemudian dirasakan oleh para pegawai Hoso Kyoku yang memiliki rasa nasionalisme dan telah memperhitungkan kemungkinan akan kembalinya kekuasaan Belanda di Indonesia. Untuk mengantisipasi datangnya musuh dibentuklah sebuah organisasi siaran radio yang menguasai semua pemancar di 8 stasiun radio Hoso Kyoku di Jawa.

Tepat tanggal 11 September 1945 pukul 17.00 WIB, delegasi radio sudah berkumpul di bekas Gedung Raad van Indie Pejambon dan diterima wakil dari pemerintah RI. “Berdasarkan penolakan pihak pemerintah balatentara Jepang untuk mengerahkan semua studio dan alat-alat pemancarnya kepada bangsa Indonesia, maka pada tanggal 11 September 1945 diadakan rapat terakhir para pemimpin radio di seluruh Jawa guna merundingkan langkah-langkah lebih lanjut, yang hendak mereka ambil,” jelas yang tertera dalam Mimbar Penerangan tahun 1959.

Pertemuan tersebut diadakan atas ide mantan pimpinan Hoso Kyoku Yogyakarta, Solo, dan Semarang (JOGLOSEMAR). Malamnya pada pukul 24.00 dan masih pada hari yang sama, pertemuan digelar di kediaman Adang Kadarusman di Menteng Dalam, Jakarta. Adapun ada enam perwakilan 6 stasiun yang hadir dalam pertemuan yang dikenal dengan Konferensi Radio I ini, yakni Adang Kadarusman, Suriodipuro, Caca, Yusuf Ronodipuro, Sukasmo, Syawal Muchtaruddin (Jakarta); Darya Sakti Iamsyah dan Agus Marah Sutan (Bandung); Sutaryo (Purwokerto); RM Sumarmadi dan Sudomomarto (Yogyakarta); Suhardi dan Harto (Semarang), serta Maladi dan Sutardi Harjolukito (Solo). Dari pertemuan inilah yang kemudian melahirkan Radio Republik Indonesia (RRI). Radio yang memiliki slogan ‘Sekali di Udara, Tetap di Udara’ tersebut hingga saat ini masih menjadi lembaga penyiaran publik di Tanah Air.

Apakah kita dapat membayangkan bila saat itu RRI tidak menyiarkan berita Kemerdekan? Jika Ronodipuro saat itu tidak mengumandangkan kemerdekaan Indonesia ke penjuru dunia? Mungkin saja Indonesia akan kembali dijajah negara lain.

Siapakah Moehammad Joesoef Ronodipoero, pria yang lahir di Salatiga, Jawa Tengah pada 30 September 1919 telah wafat di Jakarta tepatnya pada 27 Januari 2008, ia wafat diumur 88 tahun. Perjuangannya tidak akan pernah dilupakan, pada awalnya ia dikenal sebagai penyiar kemerdekaan Republik Indonesia secara luas. Selain itu ia pernah menjadi Duta Besar luar biasa Indonesia di Uruguay, Argentina, dan Chili.

Yusuf Ronodipuro dianggap sebagai salah satu tokoh pahlawan Indonesia dikarenakan perannya dalam menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia saat dia bekerja di Radio Hoso Kyoku. Ia juga salah satu pendiri dari Radio Republik Indonesia (RRI) pada tanggal 11 September 1945, yang berdiri sampai sekarang, dan kemudian hari jadinya menjadi selalu diperingati setiap tanggal 11 September.

Begini cerita singkat Yusuf Ronodipuro ketika mengumandangkan kemerdekaan Indonesia.

Jusuf Ronodipuro

Jumat pagi pukul 10.00 tanggal 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan dibacakan oleh Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56. Ronodipuro sendiri saat itu tidak mendengar kabar tersebut, karena para staf Hoso Kyoku sejak hari Rabu sebelumnya sudah tidak diizinkan untuk masuk atau keluar stasiun radio tersebut, semuanya ada di dalam. Mendadak seorang bernama Syahrudin mencari Ronodipuro dan memberikan selembar surat pendek dari Adam Malik yang berisi naskah proklamasi.

Ronodipuro tidak mengerti bagaimana Syahrudin bisa masuk gedung stasiun radio yang sekarang ada di Jalan Medan Merdeka Barat 4-5 ini, karena kala itu dijaga ketat oleh Kempetai (polisi militer Jepang). Saat akan menyiarkan berita tersebut, Ronodipuro juga bingung karena semua ruang studio siaran dijaga oleh Kempetai, tetapi dia mengingat bahwa studio siaran mancanegara sudah tidak digunakan.

Namun, ruangan ini tidak tersambung dengan pemancar. Ronodipuro kemudian menanyakan kepada bagian teknis, dan mendapat gagasan untuk mengubah pengaturan kabel stasiun radio, sehingga kabel pemancar siaran dalam negeri tersambung dengan pemancar manca negara, sehingga saat siaran, di studio akan terlihat dan terdengar layaknya siaran biasa.

Setelah semuanya siap, pada pukul 19.00, Yusuf Ronodipuro yang kala itu berusia 26 tahun, membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia lewat siaran mancanegara ke seluruh dunia. Setelah kira-kira 20 menit, dia juga membacakan naskah tersebut dalam Bahasa Inggris, sehingga radio-radio internasional seperti BBC London, Radio Amerika, Singapura dan lainnya bisa mengerti maksud siaran tersebut dan meneruskannya, sehingga seluruh dunia mendengar kabar tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia ini.

Aksi berani Ronodipuro ini kemudian diketahui oleh Tentara Kekaisaran Jepang, karena siaran tersebut akhirnya juga ditangkap oleh radio di negeri Jepang. Seluruh staf Hoso Kyoku yang terlibat dalam aksi ini dikenai hukuman disipliner berupa siksaan fisik oleh tentara Jepang.

Setelah peristiwa tersebut, Ronodipuro mendirikan Radio Suara Indonesia Merdeka (The Voice of Free Indonesia) dari barang-barang elektronik bekas. Tanggal 25 Agustus Soekarno dimohon untuk menyampaikan pidatonya di radio tersebut. Ini adalah pidato pertama Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia. Mohammad Hatta sendiri menyampaikan pidato pertamanya tanggal 29 Agustus.

Saat itu di radio milik Tentara Jepang di daerah-daerah selain Jakarta masih banyak yang melanjutkan siaran, karena tidak dijaga seketat Jakarta. Hal ini disebabkan karena Kempetai sudah tidak dominan lagi pasca Penyerahan Jepang. Ronodipuro meminta kepada Abdulrahman Saleh supaya radio-radio di daerah tadi sebaiknya mengadakan adanya kelanjutan siaran, untuk menyebarkan semangat perjuangan. Gagasan ini diterima, dan tanggal 10 September 1945, pimpinan-pimpinan radio daerah, dari Surakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang dan lain-lain berkumpul untuk membicarakan hal ini.

Saat itu, semuanya menyetujui untuk meminta pemerintah Jepang untuk memberikan stasiun radio mereka kepada Republik Indonesia. Tetapi pihak Jepang menolak permintaan ini, karena menurut perjanjian Penyerahan Jepang, Indonesia harus diserahkan kembali kepada Tentara Sekutu.

Tanggal 11 September rapat kembali diadakan, menyetujui didirikannya Radio Republik Indonesia (RRI) dan supaya sekali lagi meminta pemerintah Jepang untuk memberikan stasiun-stasiun radio di daerah. Karena tetap ditolak, akhirnya terjadi perebutan secara paksa terhadap stasiun-stasiun radio daerah tersebut. Namun hal ini tidak mendapat perlawanan banyak karena moral Tentara Kekaisaran Jepang yang sudah jatuh pasca Penyerahan Jepang kepada Tentara Sekutu. Ronodipuro akhirnya menjadi Kepala RRI.

Tentara Sekutu yang memenangkan Perang Dunia II kemudian tiba di Indonesia. Saat itu setelah Rapat Akbar Ikada, kaum pemuda merebut kantor-kantor Jepang untuk menjadi milik Republik Indonesia, termasuk Hoso Kyoku. Saat Tentara Kerajaan Belanda menumpang Tentara Sekutu untuk mengambil alih Indonesia, yaitu Agresi Militer Belanda I tahun 1946, RRI direbut oleh Tentara Kerajaan Belanda, dan Yusuf Ronodipuro kemudian ditangkap dan dipenjara tanggal 21 Juli 1947. Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 1949, Yusuf Ronodipuro kembali menjabat sebagai Kepala RRI. Yusuf Ronodipuro juga merupakan anggota delegasi Indonesia dalam Asian Radio Consultative Conference di New Delhi pada 1950 dan di Swiss pada 1954. Yusuf Ronodipuro juga sering menjadi penasihat delegasi Indonesia dalam Sidang Umum PBB pada 1961-1965. Yusuf Ronodipuro kemudian ditunjuk menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Penerangan Indonesia (1969-1972), Duta Besar RI untuk Chile dan Uruguay (1972-1976), dan Direktur Utama Percetakan Negara RI (1976). (WAN)