Cikal Bakal Sekolah Penerbang Maguwo

BACA JUGA

ads-custom-1

Jakarta, IDM – Sekolah Penerbang Maguwo menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian sejarah perjuangan para prajurit TNI Angkatan Udara (TNI AU) pada masa kemerdekaan Indonesia. 

Berdiri pada 15 November 1945, Sekolah Penerbang Maguwo menjadi menjadi lembaga  pendidikan penerbang AURI pertama. Pendirian sekolah ini juga tidak terlepas dari keberhasilan Indonesia dalam merebut Pangkalan Udara Maguwo beserta aset-asetnya dari pihak Jepang. Mengutip keterangan dari laman resmi Akademi Angkatan Udara (AAU),  aau.ac.id, keberadaan lembaga pendidikan ini sekaligus menjadi embrio pendirian Akademi Angkatan Udara. 

Di awal pendiriannya, Agustinus Adisutjipto ditunjuk oleh Pimpinan Markas Besar Umum Bagian  Penerbangan sebagai Kepala Sekolah sekaligus instruktur. Sementara itu, dikutip dari  @militer.udara, Rabu (25/1), para siswa yang menempuh pendidikan di Sekolah Penerbang Maguwo ini pun beragam dan terdiri dari penerbang yang telah memiliki “Klein Brevet”, mantan penerbang baik dari Militaire Luchtvaart (ML), Marine Luchtvaart Dienst (MLD), Vrijwillig Viger Corps (VVC), para pemuda yang sama sekali belum pernah mendapatkan pendidikan terbang,  pemuda lulusan Vlieger Sport Club Surabaya, maupun mantan siswa Aspirant Onder Officier Kortverband Vlieger yang belum mendapatkan brevet. 

Melihat keberagaman siswa di sekolah ini maka Sekolah Penerbang Maguwo berperan untuk melaksanakan pendidikan yang bersifat lanjutan, ulangan, maupun yang baru bagi para  penerbang. Membahas tentang kurikulum pendidikan, dalam jurnal Sekolah Penerbang Maguwo di Yogyakarta Tahun 1945-1947 dijelaskan bahwa kurikulum sekolah ini memiliki dua unsur yakni unsur pendidikan teori mata pelajaran dan unsur pendidikan praktek terbang.

Untuk dapat menempuh pendidikan di sekolah ini, para calon penerbang terlebih dahulu harus mengikuti serangkaian proses seleksi, mulai dari seleksi administrasi hingga kesehatan. Setelah lulus sebagai calon penerbang, mereka bisa berlatih menggunakan pesawat Cureng yang merupakan pesawat buatan tahun 1933 dan peninggalan Jepang. Kondisi sarana dan prasarana saat itu yang masih sangat sederhana dan terbatas akhirnya membuat pesawat Cureng harus mendapat sejumlah perbaikan jika ingin dipakai sebagai sarana latihan bagi para calon penerbang. 

Tidak sampai disitu, keterbatasan pun dapat terlihat dari tidak dilapisinya tempat duduk pilot  sehingga membuat kepala dan dada penerbang dapat terlihat dengan jelas. Sayap pesawat pun harus dilapisi dengan kain.

Baca: Pengadaan Barang dan Jasa TNI AU, KSAU: Prioritaskan TKDN dan P2DN

Berselang dua tahun sejak didirikan, tepatnya pada tahun 1947 sekolah ini terpaksa ditutup. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi yang tidak kondusif akibat serangan udara Belanda yang terjadi 

pada 21 Juli 1947. Pada akhirnya, hanya terdapat 20 siswa (angkatan I Maguwo) yang berhasil  menamatkan pendidikan dari sekolah ini. Mereka diberi pangkat Opsir Udara III (setingkat Kapten Udara). (yas) 

ads-custom-2

EDISI TERBARU

sidebar
ads-custom-5

BERITA TERBARU

ads-custom-5

POPULER