Bara Konflik Armenia-Azerbaijan: Nagorno-Karabakh Kembali Berdarah

13
Tentara Azerbaijan melontarkan tembakan ke arah pemberontak di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh. /Dok. dpa

JAKARTA, IDM – Dua negara berkonflik Armenia dan Azerbaijan kembali berdiri di tubir peperangan. Bentrokan berdarah di Nagorno-Karabakh sejak dua hari lalu tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Korban terus berjatuhan, baik dari warga sipil maupun militer. 

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pun menyerukan gencatan.  

Kontak senjata antara tentara Azerbaijan dan Armenia yang terjadi di Caucasus memuncak, Senin (28/9/2020). Nyawa kembali melayang.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Armenia Artsrun Hovhannisyan pada Senin malam menyatakan, pihak lawan lah yang harus bertanggung jawab atas peristiwa ini. “Pasukan Azerbaijan melancarkan serangan besar-besaran di garis depan Karabakh sebelah selatan dan timur laut,” cetusnya.

Data Kemenhan Armenia menyebut 200 tentara terluka. Sebagian besar menderita luka ringan dan telah kembali bertugas.

Sementara itu, pejabat di wilayah separatis Nagorno-Karabakh mengungkap, bentrok merenggut nyawa 26 tentara mereka. Sehingga total korban jiwa dari barisan pemberontak menjadi 84 orang. 

Total korban secara keseluruhan kini mencapai 95 orang, termasuk 11 warga sipil yang terbunuh sejak konflik pecah, Minggu (27/9/2020)—sembilan dari pihak Azerbaijan, dua dari Armenia. 

Ini bukan kali pertama wilayah sengketa Artsakh jadi palagan konflik bersenjata. Namun, bentrokan terparah sejak ‘Perang April’ 2016 itu membuncahkan potensi perang baru di area yang sejatinya telah ‘mendidih’ selama hampir tiga dekade terakhir.

Dewan Keamanan PBB Turun Tangan

Konflik Karabakh memicu perhatian Dewan Keamanan PBB. Sebagaimana pernyataan diplomat yang dikutip AFP, Selasa (29/9/2020), mereka dikabarkan akan menggelar rapat darurat. Menjawab permintaan Prancis dan Jerman, rapat digelar tertutup. 

Pada Senin pagi, Sekjen PBB Antonio Guterres menyerukan gencatan senjata di sela-sela dialog dengan pemimpin kedua negara.

“Guterres menekankan pentingnya menyetop segera pertempuran dan dimulainya kembali (serta tanpa prasyarat) negosiasi tanpa ditunda-tunda lagi di bawah payung mediasi OSCE Minsk Group,” terang Stephane Dujarric, jubir sekjen PBB.

Mobilisasi Perang

Kedua negara telah mengumumkan darurat militer. Presiden Azerbaijan mendeklarasikan mobilisasi-militer-parsial sebagai bagian dari dekrit presiden, Senin pagi. Armenia memulai mobilisasi umum sejak Minggu.

Secara terpisah, Direktur Hubungan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Josep Borrell melalui linimasa Twittermenyampaikan, dirinya telah berbicara dengan jajaran menteri dari dua negara. Ia menegaskan pentingnya kembali ke meja perundingan di bawah naungan Minsk Group—dengan Rusia, Amerika Serikat, dan Prancis sebagai penengah. 

Borrell menambahkan, “(Aksi) militer bukan solusi (penyelesaian konfilk).”

Dilaporkan Kantor Berita Interfax, Kementerian Luar Negeri Rusia mengimbau kedua belah pihak untuk saling menahan diri. Rusia sendiri merupakan sekutu Armenia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China juga melayangkan desakan serupa. Diberitakan Reuters, mereka berharap kedua negara dapat menyelesaikan pertikaian lewat jalur dialog. 

Merunut Klaim Keterlibatan Turki

Ketika komunitas internasional menyarankan segala bentuk de-eskalasi, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuntut Armenia menyudahi ‘pendudukan’ di Karabakh.

“Saatnya krisis dihentikan di wilayah itu, dimulai dengan diakhirnya menjajahan di Nagorno-Karabakh. Azerbaijan harus menangani sendiri masalah ini,” ujar Erdogan.

Armenia menuding Turki terlalu ikut campur dalam konflik ini. Kemarin, Duta Besar Armenia di Moskow mengklaim, Turki telah mengirim petempur dari utara Suriah ke Azerbaijan sebagai bentuk dukungan yang dijanjikan Erdogan. 

Dalam laporan yang dibeberkan Reuters, Kementerian Luar Negeri Armenia juga menyebut Turki ‘menampakkan kehadiran’ mereka di area tersebut. Namun, kedua klaim itu dibantah tegas ajudan Presiden Azerbaijan, Ilhan Aliyev. 

“Rumor tentang militan dari Suriah yang diduga dikirim kembali ke Azerbaijan murni provokasi (dari pihak Armenia). Itu omong kosong,” ujarnya kepada Reuters.

Di lain pihak, juru bicara kebijakan luar negeri Uni Eropa Peter Stano kepada AFP mengatakan bahwa Brussels tidak dapat mengkonfirmasi klaim Armenia tersebut. Hanya saja, ia memperingatkan terkait kemungkinan keterlibatan pihak lain. 

“Intervensi pihak eksternal (dalam konflik ini) tidak boleh ditoleransi,” tukasnya. (DW, AP, AFP, dpa, Reuters, Interfax | ISA/WAN)