Angkatan Luar Angkasa AS Fokus Area Cislunar

23
/Dok. David Salanitri / US Air Force

JAKARTA, IDM – Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA), 21 September 2020. Momentum ini menandai kolaborasi antara lembaga militer dan organisasi antariksa sipil dalam pemerintahan AS.

Dokumen lima halaman tersebut merinci ranah kolaborasi. Termasuk di antaranya penerbangan luar angkasa berpenumpang, kebijakan ruang angkasa, transportasi, serta standardisasi dan praktik pertahanan dirgantara.

Kesepakatan ini menggantikan memorandum berumur 14 tahun antara NASA dan Komando Luar Angkasa, Angkatan Udara AS, seiring metamorfosis lembaga menjadi Angkatan Luar Angkasa. 

“NASA dan militer memiliki sejarah panjang bersama sejak akhir 1950-an. Ada kekuataan dalam kemitraan ini,” ujar Kepala Operasi Ruang Angkasa, Angkatan Luar Angkasa AS, Jenderal John Raymond, 22 September. 

Pria yang akrab disapa Jay itu mengungkapkan, domain luar angkasa yang aman, stabil, dan dapat diakses kapan saja sama artinya dengan mempertegas keamanan nasional. Juga prestasi mereka secara saintifik dan kesejahteraan masyarakat.

“Kami menantikan kolaborasi di masa mendatang, menyusul semangat NASA menjelajah alam semesta demi kepentingan makhluk bumi,” tambahnya.

Tercantum dalam memorandum, bahwa mereka juga akan fokus mendalami ruang cislunar, area di luar orbit geostasioner yang mencakup aktivitas di sekitar bulan. Namun, mereka memastikan penelitian itu akan dilakukan secara maksimal sesuai batas kemampuan.

Mengapa area ini menjadi penting bagi Angkatan Luar Angkasa AS? Ruang cislunar berpotensi ‘berkembang’ menjadi entitas komersial sebab negara-negara tandingan seperti China tertarik beroperasi di kawasan tersebut.

NASA bersiap mengirim astronaut ke bulan melalui program Artemis. Sebab itu, Angkatan Luar Angkasa AS sudah selayaknya memiliki pemahaman lebih tentang fenomena apa pun yang terjadi di sana.

Di sisi lain, NASA—yang bertanggung jawab atas pertahanan dirgantara—mendeteksi dan melacak, serta mengkarakterisasi 90 persen asteroid dan komet berbahaya yang mengarah ke bumi dari jarak 5 juta mil.

Sayangnya, meski NASA dan Angkatan Luar Angkasa AS sama-sama mengklaim unggul dalam hal kapabilitas, memorandum itu mencatat kelindan di bidang teknologi yang diperlukan untuk mensukseskan misi itu.

Misalnya, teleskop surveillance di Australia. Optik-elektrik canggih teleskop ini mampu menangkap gambar objek di orbit geosinkronus (peruntukannya militer), namun NASA juga dapat menggunakannya untuk mendeteksi objek-objek yang mendekati bumi (selaras dengan fungsi pertahanannya). 

Dan, dengan adanya kesepakatan ini, kedua pihak agaknya segera menyelesaikan hal ini. Menemukan teknologi yang relevan dan data yang dapat membantu mereka menyelesaikan misi berat ini.

Administrator NASA Jim Bridenstine tak menampik, kolaborasi dengan Angkatan Luar Angkasa melanjutkan legasi serupa bersama Departemen Pertahanan AS. 

“Kesepakatan ini penting, memastikan bahwa Amerika mengawal dunia memanfaatkan ruang angkasa untuk kedamaian,” kata dia. (ISA/WAN)