5 Orang Asing yang Membantu Kemerdekaan Indonesia

1700
Kolase foto orang asing yang membantu proses kemerdekaan Indonesia.

Selama masa revolusi, sejumlah orang asing membantu Indonesia meraih kemerdekaan. Sejarah mencatat, alasan mereka membelot perintah negaranya sendiri sebagian besar adalah hak asasi manusia. Mereka yang membantu Indonesia ini tidak hanya berasal dari latar belakang militer, tapi juga penyiar radio yang bermigrasi ke Indonesia. Siapa saja mereka? Berikut hasil himpunan Indonesia Defense Magazine dari berbagai sumber.

Laksamana Muda Tadashi Maeda (1898-1977)

Tadashi Maeda/Wikipedia.

Sebagai perwira tinggi Angkatan Laut Jepang, Tadashi Maeda merupakan salah satu sosok yang berjasa terhadap proses kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1930 an, Maeda menjadi atase di Den Haag dan berlin. Saat inilah simpatinya terhadap gerakan kemerdekaan Indonesia tumbuh dan bertemu dengan pelajar Indonesia seperti Achmad Soebardjo, Hatta, dan Nazir Pamuntjak.

Setelah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom, kekalahan Jepang pun mulai tercium oleh pejuang nasional. Maeda membenarkan yang membenarkan berita tersebut juga meyakinkan rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 16 Agustus 1945 dilangsungkan. Pasca peristiwa Rengasdengklok, Maeda memberikan tempat tinggalnya di Jl. Teji Meijidori No. 1 (kini Jl. Imam Bonjol, Jakarta Pusat) menjadi tempat disusunnya naskah proklamasi.

Atas dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia, Tadashi Maeda menerima Bintang Jasa Nararya saat upacara kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 yang diberikan oleh duta besar RI untuk Jepang Antonius Joseph Witono. Dalam kesempatan tersebut dirinya pun sempat bertemu dengan Bung Hatta.

Muriel Stuart Walker (1989-1997)

Muriel Stuart Walker/NatGeo.

Muriel Stuart Walker lahir di Glasgow, Skotlandia. Dirinya kemudian bermigrasi bersama ibunya ke California, Amerika Serikat dan bekerja sebagai penulis naskah di Hollywood. Pada tahun 1932, ia pindah ke Indonesia, tepatnya Bali karena terinspirasi sebuah film berjudul “Bali: The Last Paradise”.

Lama di Indonesia membuatnya lancar berbahasa Indonesia dan Bali. Di Bali, Muriel diangkat anak oleh raja setempat bernama Anak Agung Nura. Ia lalu merubahnya namanya menjadi K’tut Tantri yang memiliki arti ‘anak keempat’.

Selama perang kemerdekaan Indonesia, sekitar tahun 1945 sampai 1949, Muriel direkrut oleh nasional Indonesia bergerilya bersama Bung Tomo dan pejuang lainnya. Ia juga turut menyaksikan Pertempuran Surabaya. Muriel kemudian menjadi penyiar radio “Voice of Free Indonesia” (kini menjadi Voice of Indonesia, sebuah divisi otonom di bawah RRI) dan sempat menjadi penulis pidato bahasa Inggris pertama Bung Karno. Dirinya juga membuat beberapa siaran dalam bahasa Inggris dengan target Barat sebagai pendengarnya dan mendapatkan julukan “Surabaya Sue”.

Di awal-awal kemerdekaan Indonesia, siaran radio memegang peranan penting untuk mengirim pesan-pesan bangsa terbaru ke seluruh dunia agar bangsa-bangsa di dunia mengenali kedaulatan Indonesia. 

Ichiki Tatsuo (1906-1949)

Ichiki Tatsuo/Line Today.

Dikenal dengan nama Abdul Rachman, Ichiki Tatsuo merupakan salah satu orang Jepang yang membelot untuk membantu Indonesia. Nama Indonesia yang diterima oleh Ichiki Tatsuo diberikan oleh Haji Agus Salim ketika Tatsuo menjadi penasihat Divisi Pendidikan PETA, sebagai bentuk penghargaan kepadanya. Setelah itu, Tatsuo menjadi Wakil Komando Pasukan Gerilya Istimewa di Semeru, Jawa Timur.

Ichiki Tatsuo gugur di Desa Dampit, Malang, pada 9 Januari 1949 akibat tertembak tentara Belanda. Pada Februari 1958, Presiden Sukarno memperingati jasanya dengan memberi sebuah teks yang disimpan di biara Buddha Shei Shoji di Mintoku, Tokyo.

Biara tersebut akhirnya menjadi monumen Sukarno (Sukaruno hi) bertuliskan, “Kepada sdr. Ichiki Tatsuo dan sdr. Yoshizumi Tomegoro. Kemerdekaan bukanlah milik bangsa saja, tetapi milik semua manusia. Tokyo, 15 Februari 1958. Soekarno.”

Tomegoro Yoshizumi (1911-1948)

Tomegoro Yoshizumi/Senandika.web.id.

Selain Ichiko Tatsuo, Sukarno juga memberikan penghormatan yang tinggi pada perwira intel Jepang, Tomegoro Yoshizumi. Hal tersebut karena saat Jepang mengirimkan tentara untuk menduduki Indonesia, Yoshizumi yang terafiliasi sebagai wartawan dan mata-mata Jepang malah membantu kemerdekaan Indonesia dan memberikan hidupnya untuk Indonesia.

Dalam pasukan tersebut, Yoshizumi mendapat nama panggilan Arif. Yoshizumi gugur di Blitar pada 10 Agustus 1948 dan makamnya bisa ditemui di Taman Makam Pahlawan, Blitar, Jawa Timur.

Bobby Earl Freeberg (1921-1948)

Bobby Earl Freeberg/Wikipedia.

Bobby Earl Freeberg atau dikenal dengan Bob Freeberg adalah seorang pria kelahiran Parsons, Kansas, Amerika Serikat. Bob Freeberg awalnya bekerja sebagai pilot Angkatan Laut Amerika Serikat pada Perang Dunia II yang kemudian menjadi pilot komersial di CALI (Commercial Airlines Incorporated) Filipina. Bob kemudian menjadi pilot di Indonesia berkat hubungannya dengan Opsir Udara III Petit Muharto Kartodirdjo yang ditugaskan mencari penerbangan komersial yang siap menembus blokade udara Belanda.

Penerbangan pertamanya di Indonesia terjadi pada Maret 1947. Dipandu oleh Muharto, Bob terbang ke Maguwo, Yogyakarta. Dari hasilnya menerbangkan pesawat komersil, Bob menabung dan akhirnya mampu membeli pesawat pertamanya, Dakota C-47 dan terdaftar di Republik Indonesia sebagai RI-002. Bob tidak mendaftarkannya sebagai RI-001 karena selayaknya nama tersebut disanding oleh pesawat pertama yang dimiliki oleh Indonesia. Saat itu Indonesia tidak punya satupun pesawat angkut.

Dari surat-suratnya yang dikirim ke keluarganya di Amerika, Bob bercerita tentang ketidakadilan yang diterima Indonesia dari Belanda. Bob terlibat tidak hanya karena ia dibayar, tapi juga secara emosional.

Tanggal 1 Oktober 1948 menjadi penerbangan terakhir Bob. Ia bersama sejumlah awak pesawat menghilang yang akhirnya diketahui jatuh di sekitar Bukit Punggur, Lampung Utara, dan ditemukan bangkainya pada April 1978. Meskipun rongsokan pesawat sudah ditemukan, kerangka Bob tidak pernah ditemukan. Hal ini menyebabkan kematian Bob masih misteri, apakah jatuh ditembak, atau meninggal di tahanan Belanda.

Di kalangan AURI, Bob merupakan pribadi yang lembut namun penuh disiplin tinggi dan tak pernah mengeluh. Oleh sebab itu ia banyak disukai orang. Di mata Presiden Sukarno, Bob adalah seorang teman dari Amerika, orang yang idealis dan ditakdirkan datang untuk membantu perjuangan Indonesia. (NHN/MAI)