11 Juni 1962 : Mengenang Gatot Subroto, Jenderal “Gila” Asal Banyumas

71
(Dok Istimewa)

Jakarta, IDM – Tepat pada tanggal 11 Juni 1962, seorang pahlawan besar meninggal karena sakit, setelah berhasil menumpas pemberontakan PRRI/Permesta di Sumatera dan Sulawesi. Kenangan akan perjuangan dan sikap ksatrianya tentu dapat menjadi tauladan bagi para aparat militer yang sejatinya berasal dari rakyat.

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Gatot Soebroto? Seorang Jenderal yang dapat dikatakan sangat dekat dengan rakyat dan pasukannya. Bukan sekedar dekat secara instruksioner, melainkan sikap kekeluargaannya sarat dengan pendekatan humanis. Walau ketika berkomunikasi dengan para pejuang, kata-kata yang kerap keluar darinya adalah panggilan “kasar”, yakni “monyet”. Tapi, hal ini diketahui sebagai bentuk rasa sayangnya terhadap pasukannya.

Gatot Subroto merupakan salah satu tokoh pejuang militer Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Ia dilahirkan pada 10 Oktober 1907 di Banyumas, Jawa Tengah, sebagai putra pertama dari Sajid Joedojoewono.

Selama memimpin tentara yang berada dibawah komandonya, Gatot Soebroto selalu menomorsatukan keluarga dari para pasukan pejuang. Begitupula dengan kondisi rakyat yang berada disekitar jangkauannya, yang paling utama adalah dukungan rakyat kepada para pejuang.

Maka wajar, bila seorang sosok sekaliber Gatot Soebroto mampu menggertak Jepang selama masa pendudukannya di Indonesia. Rakyat telah jatuh hati kepada sikap beliau dalam membela kebenaran. Bukan kaleng-kaleng, tatkala seorang serdadu Jepang bertindak semena-mena terhadap rakyat, beliau langsung turun tangan untuk membela rakyat. Pengalaman militer yang didapatnya di KNIL dan PETA, menjadikan beliau sebagai salah seorang tokoh sentra militer Indonesia.

Sejarah mencatat, keterlibatannya sebagai ahli siasat dalam pertempuran Ambarawa pada 20 Oktober 1945, merupakan keberhasilan yang luar biasa. Pasukan pejuang berhasil mengusir Sekutu di palagan Ambarawa yang terkenal dengan strategi “capit urang”nya bersama dengan Kolonel Soedirman (kelak menjadi Panglima Besar).

Kala itu, Gatot Soebroto masih berpangkat Letkol. Atas aksi brilian dan keberaniannya dalam menyatukan pandangan diantara para pejuang pada pertempuran Ambarawa, Gatot Soebroto kemudian diangkat sebagai Panglima Korp Polisi Militer. Para pejuang akhirnya lebih familiar dengan panggilan “monyet”, yang dikenal lebih akrab dan mampu menundukkan ego revolusioner antar pejuang.

Gatot Soebroto dikenal sangat royal kepada rakyat, kebutuhan pangan selalu diupayakan untuk mengurangi beban penderitaan rakyat selama perang berlangsung. Ketika terjadi peristiwa berdarah di Surakarta sebelum pemberontakan Musso di Madiun, ia mendapatkan dukungan penuh dari para pejuang dan rakyat. Maka, tidak perlu memakan waktu lama, huru-hara di Surakarta dapat segera dipadamkan, dan beliau fokus kepada penyelesaian pemberontakan Madiun pada 1948.

Bersama pasukan Siliwangi dan para pejuang Republik di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ia mampu memberikan pukulan telak kepada para pemberontak PKI-Musso. Pemberontakan Madiun yang diprakarsai oleh Musso dan Amir Syarifuddin, dapat segera dipadamkan, guna mengantisipasi upaya Belanda dalam Agresi Militernya yang kedua.

Seorang Jenderal rakyat, yang secara mutlak berdiri ditengah-tengah masyarakat adalah kunci keberhasilannya dalam mengatasi pemberontakan dan Agresi Militer Belanda II. Sebagai Gubernur Militer di Surakarta, ia mampu menghalau para pasukan Belanda yang hendak masuk ke Jogjakarta dengan menggelar berbagai front pertempuran yang terbentang diantara Surakarta hingga Jogjakarta.

Ya, itulah sosok seorang Jenderal yang terkenal dengan kesederhanaannya. Seoerang warior atau panglima perang yang lebih mengedepankan pendekatan humanisme dalam menyelesaikan segala persoalan. Gatot Soebroto adalah sosok unik yang eksentrik dengan berbagai kelebihannya. Ia adalah sosok dibalik berdirinya Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), usai wafatnya. (GIN)